Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Futsal Bulan Februari 2019


[Artikel 27#, kategori futsal] Ada rekan yang bilang pamit, jika ini futsal terakhirnya. Ia kembali ke kota asalnya, Bandung. Ia akan melanjutkan bisnis orang tuanya. Saya hanya bisa bilang, sukses di sana broh. Tetap bermain futsal.

Awal bulan, tanggal 1 rupanya jatuh hari Jumat. Pertama kali futsal bulan Februari berarti. Hujan rasanya masih menemani. Apakah semangat yang sudah datang ini dapat dipertahankan di lapangan?

Ternyata tidak. Badan malam ini bermain sangat aneh. Berat sekali. Apakah karena efek menjadi kiper di awal permainan, atau kurang pemanasan? Dan pikiran masih saja mencurigai isi perut yang belum dikeluarkan beberapa hari ini.

Itu sangat berpengaruh buat saya. Pulang dari sini, saya harus minum obat pelancar buang air besar.

Selalu ada awal dan selalu ada akhir

Beberapa pekan terakhir ini, pertandingan selalu main lebih dari setengah jam dari jadwal yang disewa. Maklum, belum pada datang. Semua pemain rata-rata pekerja. Tentu jadi tantangan sendiri buat mereka menyisihkan waktu.

Sebelum saya masuk lapangan, saya berbicara dengan rekan futsal yang beberapa minggu tidak datang. Sekali datang, ia malah pamit untuk tidak main lagi jumat depannya.

Tapi untunglah itu bukan sebuah perpisahan yang menyedihkan. Karena memang saya tidak begitu dekat dengannya. Saya datang hanya untuk bermain, bukan untuk mencari persahabatan.

Ia sepertinya menjadi tumpuan keluarga dan juga melanjutkan estafet bisnis yang sudah dibangun. Ia akan tetap bermain futsal dengan senyum lebarnya saat saya memberi semangat untuk terus bermain.

Ia pasti bermain futsal. Banyak teman di sana yang menyukai permainan ini. Syukurlah jika begitu. Saya yang sudah setahun lebih rutin terus bermain ini bakal kesulitan bila tidak lagi bermain.

Mumpung sedang cinta-cintanya bermain. Waktu seakan bergerak cepat. Tanpa sadar sudah Jumat. Di atas lapangan, pikiran terkadang tidak berjalan sesuai harapan. Banyak faktor yang mengekang, tapi saya tetap menyukainya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini