Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dari Sachet ke Kopi Bubuk

[Artikel 3#, kategori kopi] Hari ini saya masih minum kopi. Semacam kebutuhan agar tetap bernyawa saat berhadapan dengan layar. Yang berbeda dulu dan sekarang adalah saya berhenti membeli kopi sachet sekali minum. Padahal dulu tergila-gila karena dianggap mewakili kaum lemah seperti saya.

Saya pikir masalahnya adalah lebih hemat ternyata. Kopi bubuk bisa diseduh berkali-kali dan lebih lama habisnya. Tentu di masa pandemi sekarang, memangkas anggaran seminim mungkin adalah pilihan.

Lalu saya terpikirkan tentang gaya ngopi saya yang sekali minum. Murah juga sebenarnya saat itu. Satu bungkus dengan isi 10 sachet hanya 6 ribuan rupiah. 

Untuk saya yang bukan penyuka kopi namun butuh sekali depan layar satu cangkir, itu benar-benar praktis. Minimal 1 hari 2 sachet. Bisa lebih kalau butuh asupan kafein. 

Kopi bubuk

Sekarang, lupakan kopi sekali minum. Saya lebih menyukai kopi bubuk. Suka di sini adalah karena durasi minumnya bisa lebih lama dan uang yang dipakai lebih sedikit.

Saya bisa menakar berapa sendok yang saya inginkan. Plus ditemani gula juga. Benar-benar hitungannya murah kalau saya pikir ketimbang beli kopi sachet sekali minum.

Hidup selalu berubah mengikuti waktu. Terkadang yang kita benar-benar sukai, belum tentu ikut bertahan. Terdengar menakutkan, tapi itulah kehidupan.

Entah, beberapa tahun lagi di masa depan. Apakah saya kembali mengubah gaya minum kopi saya, atau tetap bertahan? 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini