Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tetangga Pindah

[Artikel 17#, kategori rumah] Sudah 1 tahun berlalu rupanya. Semenjak koronavirus, saya lumayan dekat dengan tetangga yang rumahnya pindah hari ini. Terutama si Abah (kakek). Beliau suka buah. Kebenaran pohon buah di rumah seperti kelengkeng dan jambu, selalu berbuah.

Si Abah yang juga berasal dari Samarinda ini senang bercerita. Tiap pagi atau sore saat sedang beraktivitas membersihkan taman, beliau pasti datang menghampiri. Pembicaraan kami lebih banyak tentang pandemi, maklum awal-awal koronavirus menghampiri, beliau tidak bisa balik sementara waktu.

Tanpa terasa, rumah yang ramai keluarga mereka di sebelah ini sekarang sudah sepi. Beberapa barang masih ditinggal, mungkin pelan-pelan diangkutnya. Anak si Abah dan menantunya memang pada bekerja semua. Si Abah dan istrinya lah yang menjaga anak-anak (cucu-cucu) mereka saat di rumah.

Mertua yang baik.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini