Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ada Alasan Punya Helm Hari Ini

[Artikel 57#, kategori Pria Seksi] Karena saya ingin sedikit berguna, upaya saya ketika ia akhirnya bekerja adalah membeli helm. Saya membayangkan akan menjemputnya sekarang. Apalagi jam kerjanya seperti orang hotel saat ia berada di luar negeri. Malam. Saya terlalu khawatir untuk memikirkannya.

Saya tidak menyangka akhirnya harus kembali bersentuhan dengan kendaraan roda dua. Hampir 8 tahun bersepeda, saya tidak tahu lagi kabar Surat Izin Mengemudi (SIM) yang masih saya simpan. Ya, sudah expired total. 

Meski hari ini harus kembali mengendarai, cinta memang membutakan, saya tidak menyesal tidak memperpanjang SIM saat masa berlakunya sudah mau habis waktu itu. 

Pulang berdua

Melegakan rasanya membawanya pulang sampai rumahnya. Dinginnya malam memang merasuk sampai tulang, tapi ketika pulang berdua bersamanya, perasaan setidaknya lebih hangat karena tidak khawatir.

Niat dan upaya saya tidak sia-sia hari ini. Bahkan malam perayaan tanggal jadian, kami rayakan berdua sambil sarapan pagi. Eh makan malam. Itu luar biasa, dan pengalaman yang tidak terlupakan.

Waswas

Meski akhirya bisa pulang berdua, saya tetap waswas. Terkadang saya bersyukur saat gerimis datang, karena tidak khawatir ada polisi sedang patroli. Atau kisah miris pengendara yang sial karena begal.

Kasian dia sampai menjadi korban dan saya tidak bersamanya. Malam begitu menakutkan. Sial bisa datang tanpa diundang.

...

Helm yang saya beli tidak begitu mahal dan bukan barang yang baru. Saya tahu bahwa kantong tidak mendukung hari ini. Tapi bukan itu yang ingin saya terjemahkan mengapa saya harus membeli helm.

Menjaganya, pulang bersama dan berkorban dari jam tidur hanya untuk pasangan. Begitulah cinta, ada banyak hal yang ingin dilakukan. Meski terkadang itu berlebihan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini