Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Adaptasi Lagi

[Artikel 48#, kategori Cinta] Beda negara saja bisa, masa satu kota tidak bisa. Entahlah, situasinya sama lagi setelah keputusannya kembali bekerja. Padahal sudah nyaman dan sangat dekat. Mau tidak mau, harus beradaptasi lagi mengikuti iramanya.

Saya terus berusaha mengubah keputusannya. Tapi tetap tidak bisa. Yang saya sesali adalah ia tak pernah berbicara dengan saya tentang keputusannya. Tahu-tahu sudah mengirimkan surat lamaran. Nasi sudah jadi bubur, hanya perasaan sendiri yang dapat menghibur.

Kini, hanya bisa mendukung meski tak pernah ikhlas. Karena sudah tidak ada jalan lain untuk membelokkan. Semangatnya, kemandirian dan tekadnya, saya harap tidak pernah padam.

Saya berharap untuk yang terbaik baginya. Dan saya selalu mendukung, meski dari belakang saja.  

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini