Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Rajin Berolahraga dan Nggak Enakan

[Artikel 33#, kategori rumah] Sehat itu adalah hak setiap manusia. Saya pun rajin berolahraga. Hanya saja ketika beberapa tetangga juga jadi rajin berolahraga, saya kok jadi sungkan. Duh, konsisten saya ikut terganggu akhirnya.

Jadi ceritanya bapak-bapak tetangga rumah beberapa bulan ini mendadak bersemangat berolahraga. Mereka berjalan kaki bolak-balik sekitar lingkungan perumahan. Positif tentunya, aura perumahan jadi berasa hidup.

Hanya saja aktivitas mereka yang hampir tiap hari membuat saya merasa nggak enakan. Aktivitas saya yang tiap hari bersih-bersih halaman, maksudnya menyapu di sekitar rumah, harus memberikan ruang kepada mereka.

Tidak ada masalah sebenarnya. Apalagi membuat saya dan mereka jadi sering bertegur sapa. Terkadang salah satu bapak, sering kasih semangat buat saya bersih-bersih.

Namun manusia yang terbiasa dengan keadaan yang nyaman (biasanya sepi), tiba-tiba ramai, kok merasa nggak enak sendiri. Bahasa lainnya, malu.

Pada akhirnya saya sendiri yang terpengaruh. Konsisten yang sudah bertahun-tahun bersih-bersih mendadak sering saya abaikan. Atau kadang, saya ambil waktu agak siang setelah mereka selesai.

Dilema menjadi manusia. Padahal tidak masalah, namun karena malu atau nggak enakan, jadi menderita sendiri.

Gambar : Ilustrasi

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini