Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ketemu Blogger

[Artikel 115#, kategori blogger] Meski tujuannya bukan silaturahmi, tetap saja mengawali bulan dengan pertemuan secara offline merupakan sesuatu. Beberapa orang memang sudah bertemu beberapa waktu belakangan, tapi kali ini dengan orang yang lebih banyak.

Minggu pagi (3/10), rencana sarapan pagi dengan teman-teman bloger membuat saya memutuskan membuat mie goreng saja. Jam sarapan pagi tidak biasa saya memang sebelum jam 6, dan acara nanti jam 7 an. 

Tidak afdol rasanya ketika menikmati sarapan di tempat yang keren perut sudah kekenyangan. 

Liputan

Seperti biasa, undangan kali ini adalah untuk liputan tentang acara yang digagas dan sudah berjalan hampir 2 tahun. 

Sunday market

Saya tidak menyangka, kegiatan yang sekali seminggu saya lihatin saat bersepeda, akhirnya saya datangin juga.

Bila biasanya sekedar lewat, kali ini masuk dan dapat reward. Yaitu, sarapan pagi. Terkadang ingin memaksakan bahwa sangat penting mendapatkan uang dari pekerjaan. Nyatanya? Tersenyum saja, karena rejeki tidak kemana.

Branding jasa

Setelah dirasa cukup melihat-lihat, stok foto dan video sudah banyak, kami masuk ke tempat yang sudah menyiapkan meja kami untuk sarapan.

Yang spesial, ada menu yang dibuat khusus untuk kami. Tinggal pilih menu makanannya dan maaf, hanya satu menu saja, ya.

Teman duduk saya yang di depan beberapa bulan lalu kami bertemu ternyata serius menggarap branding tentang Content Writer. Saya penasaran, apalagi tidak banyak orang yang membangun branding seperti itu.

Mengingat, content writing adalah teknik. Menjadikannya sebagai label (branding), itu artinya ia menawarkan jasa kepada orang-orang.

Saat orang-orang datang di sini saya kenal dengan identitas sebagai pemilik blog, ia sepertinya memilih sebutan content creator.

Semangat, broh! Membangun itu selalu mudah meski penuh peluh, yang susah adalah menjaganya untuk tetap utuh.

...

Saya senang bisa bertemu mereka semua dibalik tujuannya yang bukan untuk sekedar bertanya apa kabar. Menjaga ekosistem perbloggeran di Kota Semarang sangat penting. Meski sudah tidak berkomunitas lagi.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini