Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Reuni Tim Hari Jumat di Hari Selasa

[Artikel 96#, kategori futsal] Ada cerita menarik Selasa malam (15/3). Beberapa rekan futsal berkumpul. Tidak ada aneh sebenarnya dan wajar. Hanya saja, seorang rekan yang belum ketemu akhirnya bergabung juga. Kami seperti sedang reuni yang biasanya dipertemukan tiap hari Jumat.

Rasanya tiap main hari Selasa, waktu begitu sebentar bila main. Padahal durasi sewa sampai 3 jam. Ya, itu karena jumlah pemainnya yang cukup banyak. Malam ini saja sampai 7 tim, yang masing-masing 1 tim berisi 6 orang. Luar biasa.

Reuni hari Jumat

Perasaan yang masih bagus beberapa minggu terakhir, membuat saya bersemangat. Namun kali ini saya akhirnya merasakan kekurangan. Kembali menjadi kiper. Benar-benar kehilangan momentum.

Dari sekian momen, kumpul bersama rekan-rekan yang biasa bermain hari Jumat terasa menyenangkan. Tidak salah jika olahraga semacam futsal membuat pertemanan lebih nikmat. Khususnya buat mereka yang sudah tidak muda lagi.

Sudah lama sekali tidak bermain hari Jumat. Saya jadi ingat awal-awal kembali bersemangat bermain futsal. Setelah vakum beberapa tahun, akhirnya saya menemukan diri saya kembali.

Sayangnya, pandemi mengubah segalanya. Kami tidak lagi bermain setiap hari Jumat. Untunglah, rekan sesama Jumat mengajak saya untuk ikutan bermain hari Selasa dan Kamis. Terselematkan.

Sarung tangan

Ketika mendapatkan kebangkitan akhir bulan Februari, saya pikir dengan tidak menjadi kiper, saya udah bahagia dan bersenang-senang. 

Namun mendadak sebelum main tadi malam, kiper yang biasanya, mendadak memberi sarung tangan karena ia sudah punya yang baru. Duh, ini gimana skenarionya ?

Apakah saya harus jadi kiper terus? Entahlah.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini