Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Real Madrid Gagal Ke Final Liga Champions Karena Manchester City Begitu Sempurna

[Artikel 35#, kategori Real Madrid] Real Madrid gagal mengulang meraih si kuping besar alias Piala Liga Champions setelah disingkirkan Manchester City leg kedua dini hari tadi, Kamis tanggal 18 Mei 2023. Bukan hanya kalah segalanya, tapi juga terbantai dengan skor mencolok 4-0. Total selisih gol atau agregat adalah 5-1. 

Tim yang besar dan pelatih yang hebat pasti tidak akan gagal terus, mereka belajar dari masa lalu dan itu yang coba ditunjukan Manchester City bersama Pep Guardiola kala menjamu juara bertahan, Real Madrid.

City yang penuh motivasi dan tekad

Real Madrid sebenarnya tidak ada yang salah. Baik dari komposisi pemain hingga formasi tim. Ancelotti menaruh kepercayaan tinggi kepada tim yang tahun lalu menjuarai Liga Champions dan berharap ada keajaiban lagi.

Sayangnya, Pep mengerti pola Real Madrid yang masih mengandalkan hal yang sama berturut-turut. Pep sadar jika ingin lolos, harus merombak segalanya. 

Tidak heran, Manchester City bermain seolah tampil sempurna. Dampaknya, beberapa pemain Madrid kesulitan berkembang dan bahkan melakukan kesalahan.

Usai pertandingan berakhir, saya sudah melihat bahwa Real Madrid sudah salah sejak awal. Terlalu percaya diri tanpa banyak utak-atik strategi adalah kesalahan. 

Ancelotti dan staf pelatih tidak membaca data-data fakta bahwa tim mereka belum pernah menang di kandang City dan juga Pep tidak mungkin akan kalah sekali lagi.

Pada akhirnya mental juara tidak berarti di sini. Mental yang terus menjadi kekuatan kali ini rasanya sengaja diturunkan persentasinya. Apakah pemain Madrid bosan juara? 

City memberi pelajaran sangat berarti bahwa motivasi dan tekadlah yang dapat memberi perbedaan. Saya pikir Manchester City layak menjadi juara.

Ya, semoga saja. Jangan sampai di final malah kalah sama Inter Milan. Jangan bilang motivasi dan tekad mereka hanya untuk mengalahkan Real Madrid saja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini