Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bekerja Memang Melelahkan, Tapi Demi Keluarga Itu Harus

[Artikel 18#, kategori rumah tangga] Saya rasa sepertinya tidak akan sanggup meneladani sosok kepala rumah tangga itu yang kebanyakan pekerjaannya harus dilewatkan di rumah sakit. Sudah lelah bekerja dan pulang inginnya istirahat, eh harus keluar lagi membawa keluarga tercinta.

Ini bukan kisah saya karena kalian pun tahu, saya masih single. Di umur sekarang, memang menyedihkan melihat saya tanpa pasangan yang seharusnya memiliki buah hati.

Saat menjalani kehidupan sendiri, ada kehidupan lain yang tanpa sadar terpapar seakan memberi pelajaran bagaimana hidup berumah tangga. 

Tidak ada waktu santai

Saya terkesima dengan bapak satu anak tersebut yang memang sudah sewajarnya melakukan itu. Sore menjelang malam, ia pulang ke rumah setelah beberapa hari menghabiskan waktu di rumah sakit.

Terkadang hanya hitungan jam dan bahkan, hanya masuk sebentar ke rumah, si suami datang dan pergi bersama si istri dan anak semata wayangnya mencari makan sekaligus bersenang-senang memanjakan keluarganya.

Saya yang melihatnya seakan tidak percaya bahwa itu dilakukan setiap momen tertentu. Andai saya, mungkin memilih langsung tidur saja usai mandi. Bekerja pasti melelahkan. Saya rasa tidak akan sanggup untuk keluar lagi.

Demi keluarga

Jika memikirkan sudut pandang saya, tentu saya juga benar. Namun bila ditaruh di sudut pandang si suami, ia harus berusaha dan sewajarnya membahagiakan keluarga kecilnya.

Kadang bertemu istri dan anak memberi energi tersendiri. Rasa lelah mendadak saja hilang saat melihat putri tercinta bersenang-senang.

Itulah pentingnya memiliki pekerjaan yang baik dan orang tua yang dapat membantu dikala gajian belum menentu. Keluarga kecil harus dimanjakan agar mereka tidak protes karena ditinggal mulu di rumah.

Siapa tidak akan bosan jika di rumah terus dan mengurus anak yang terkadang menjengkelkan meski sangat sayang sekali. Suami harus melakukannya, buang pikiran rasa lelah dan ingin tidur dulu.

...

Apakah saya akan mengalami hal sama andai nanti menikah? Rasa percaya diri saya sangat kurang untuk menjalaninya, terutama sisi ekonomi. Apakah saya sanggup? Sedangkan saya sendiri hanya bekerja di rumah dan pendapatan yang tidak menentu.

Makanya sempat terbelesit mencari pasangan hidup sebaiknya yang lebih kaya dari saya. Apapun saya berikan untuk mencintainya, apalagi saya berzodiak Cancer. Ya, saya sangat setia. Umur yang matang saat ini sudah tidak akan aneh-aneh lagi dalam berhubungan.

Hanya saja kok rasanya sulit. Mending ada yang tertarik. Ini cari kriteria di atas rata-rata. Perempuan mana yang mau dengan laki-laki miskin dan burik. Mereka (wanita) pasti juga memikirkan hal yang sama seperti saya.

Mencari pasangan yang kaya raya dan setia.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini