Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kota Semarang yang Pagi Hari Masih Ditemani Kabut

 

[Artikel 33#, kategori Semarang] Semenjak kemarau melanda Kota Semarang, pemandangan kabut (entah apakah itu asap) pagi hari selalu menutup pemandangan yang biasanya terlihat 5 gunung. Paling besar adalah gunung Ungaran. Sekarang jarak pandang itu terbatas. Sampai kapan ini akan berakhir?

Hari kedua di bulan November. Dinginnya udara pagi bak kemewahan yang sulit tertandingi apabila sudah masuk ke dalam kamar. Ibu Kota masih ditemani kemarau, meski sudah hujan beberapa kali.

Kabut

Saya sudah jarang bersepeda pagi hari. Perasaan malas yang saya takuti akhirnya menghampiri. Entah apa yang terjadi, kadang juga karena sudah tidak nyaman terutama pada lutut kaki. Rasanya semakin parah bila mengambil rute yang terlalu jauh.

Dengan bersepeda, saya sering melihat pemandangan apabila melewati jembatan Citarum. Atau sedang berada di rumah saat menyerup kopi pagi hari di lantai atas.

Sekarang, pemandangan itu tidak lagi terlihat. Semua tertutupi kabut putih. Rumah-rumah kecil yang bertumpuk atau pemandangan 5 gunung yang seolah mengelilingi Kota Semarang.

Saya merindukuan momen itu kembali. Keadaan sekarang seperti tamparan keras bahwa saya harus bersyukur dengan berbagai keadaan yang bisa saya nikmati. Karena kenikmatan itu sering kali tidak akan datang dua kali.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini