Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Keteraturan yang Buat Tidak Nyaman

[Artikel 58#, kategori rumahManajer terbaik kami di rumah sedang melakukan misi besar dalam urusan merombak rumah. Alhasil, semua harus serba diatur agar terlihat nyaman dan bersih. Namun entah kenapa itu berdampak kurang baik buat saya pribadi.

Sial! Sekarang saya punya alasan keluar rumah. Pikiran saya terus berimprovisasi yang mana seharusnya tidak terjadi. Bahkan sebelum ini, saya berkeras hati untuk bertahan hingga waktu tertentu. 

Keteraturan

Salah satu yang membuat diri saya kurang nyaman adalah keteraturan yang terlalu dipaksakan. Padahal, di umur sekarang, saya mau sesuatu tetap ada dan tidak berubah.

Semisalnya saja seperti sendal yang ada di depan rumah. Saya lebih banyak beraktivitas pagi hari menggunakannya untuk menyalakan kran air atau pompa air.

Biasanya selalu ada di depan, namun mendadak dipindahkan ke dalam. Saya pikir hanya sesaat dan wajar. Ternyata, sering kali saat saya taruh kembali di luar, sendal itu ditaruh lagi ke dalam.

Hingga suatu hari, saya diberitahu untuk selalu menaruh sendal di dalam. Saya tidak menyukai itu. Semakin ke sini, perasaan nyaman saya lebih sering terganggu. Tentu, masih ada banyak lagi. 

Karena saya harus menghormati sang manjer, mau tidak mau saya melakukannya dengan terpaksa. Jadi, saat dini hari mau nyalakan air atau pompa air, saya harus mengambil sendal dari dalam. 

Jika selesai urusan, saya harus bawa lagi ke dalam. Terkadang saat harus keluar ingin membeli sesuatu, saya harus mengambilnya lagi...dan lagi. Dan kemudian menaruhnya lagi.

Sebel sendiri tapi malas ngurusin

Saya merasa dejavu dengan masa lalu yang pernah saya alami. Entah kenapa urusannya dengan wanita itu menyebalkan. Dan saya sudah tidak mempercayai orang baik sekali lagi.

Solusi satu-satunya adalah segera pergi dari rumah ini. Sudah tidak ada lagi tujuan dan alasan tinggal lagi sebenarnya.

Saya bertahan karena adanya dotsemarang sebagai pekerjaan. Saya benar-benar harus memikirkan sekali lagi alasan ini. Karena belum tentu juga saya pergi di saat hutang-hutang saya masih belum terlunasi.

...

Ternyata perbedaan umur antara 30 dan 20-an sangat berpengaruh sekali dalam mengambil keputusan dan pikiran. Umur 20-an mungkin saya bisa berkeras hati, mengatakan sesuatu yang yang saya percayai atau pergi sekalian tanpa perlu dihalangin.

Umur 30-an, kebijaksaan menjadi pertimbangan setiap kali pikiran mendorong keberanian. Karena rasa itu, saya harus berpikir ulang. Mungkin jika tinggal di tempat sendiri saya akan memiliki sikap yang berbeda.

Di sini, saya harus tahu diri. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sudah numpang, malah ngelunjak. Diatur buat baik, malah kesel karena alasan kenyamanan.

Menjadi dewasa itu melelahkan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini