Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Istri, Manajer Terbaik Di Rumah

[Artikel 17#, kategori rumah tangga] Semenjak si bungsu tinggal di rumah bersama keluarga kecilnya yang ingin menyelesaikan studi-nya, saya disuguhkan keharmonisan dalam berumah tangga. Semacam alasan kuat agar saya segera menikah. Tapi, bisakah mendapatkan pasangan seperti yang saya bayangkan?

Menyenangkan memang jika tujuan sebagai pria dewasa akhirnya terlaksana, yaitu memiliki istri. Plus, anak yang membawa suasana tawa di tengah kesibukan berperan sebagai orang dewasa.

Manajer terbaik

Saya sangat menghormati pasangan ini bukan saja sebagai pemilik rumah tapi juga sebagai pribadi. Banyak pelajaran yang dipetik dari cara mereka memperlakukan kehidupan mereka dalam berumah tangga.

Bila si suami sibuk bekerja demi masa depan, sang istri yang diberi kewenangan untuk mengurus anak tanpa sadar membuat saya mematok tinggi-tinggi bagaimana nanti mencari istri.

Si istri menurut saya merupakan manajer terbaik. Ia mampu mengatur apa saja di rumah meski terkadang membuat saya sedikit terganggu yang hanya ingin bersantai di dalam sepi.

Alhasil, rumah terlihat rapi dan tertata dengan rapi. Bayangkan dengan isi kamar saya yang ditinggali, sangat berantakan. Kamar mereka beberapa kali terlihat tak sengaja, sangat bersih.

Apalagi harus mengurus anak yang menurut saya itu cukup berat. Mulai dari mengantar anak sekolah, memberi makan, masak buat si suami dan sebagainya.

Bisakah saya mendapatkan istri seperti dia nanti? Si bungsu benar-benar beruntung memiliki istrinya. Mungkin ini yang dinamakan kecocokan antara anak bungsu dan anak pertama (istri). 

...

Entahlah, apakah saya bisa memimpikan pasangan seperti mereka. Jangankan menikah, saya yang sekarang kebanyakan di kamar, sudah terlalu malas berkegiatan dan berkenalan secara offline dengan banyak wanita.

Ya, semoga saja saya menemukannya. Sekali seumur hidup, saya berharap bisa menikah kelak.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini