Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tips Mencintai Kotamu


[Artikel 29#, kategori Semarang] Saat kamu lebih mengenal dia, di situlah kamu sedang jatuh cinta. Kamu merasakan perasaan tidak biasa. Tiap waktu yang kamu lewati penuh dengan sensasi. Menyenangkan, kecewa, tapi anehnya kamu tetap bertahan.

Begitulah perumpamaannya. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang lebih lama hidupnya mengenal Semarang. Mereka lebih fasih, tapi selalu berkata bahwa kota ini sudah biasa. Tak ada ketertarikan, kecuali momen tertentu.

Saya selalu bilang bahwa Kotamu ini sangat indah dan keren. Banyak hal menarik yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tapi tetap saja, ini bukan seolah tidak mencintai, ini soal pengalaman. Melihat, bercengkrama dan menceritakan kepada orang lain.

Dari sini saya mengerti bahwa tips mencintai tempat tinggal adalah menjelajahi tiap sudut dengan berbagai pengalaman. Mungkin hal sepele buat orang lain, tapi saat kembali diceritakan, itu menjadi nilai tambah yang tak pernah terpikirkan akan mendorong untuk terus melihat kembali.

Dari sudut yang ditemui, selalu ada orang menarik untuk diajak berbicara. Entah pengalaman hidup atau mimpi yang ingin atau belum terwujud. Ini tanpa sadar, memicu hati nurani terdalam yang jarang terbangun karena kurang kesadaran.

Saya lega bahwa ini jadi cerita saya. Masih banyak hal tentunya yang membuat kita mencintai sebuah kota. Dan pesan saya, ingatlah tentang ungkapan bumi dipijak, langit dijunjung.

Pengalaman itu mahal sekali. Bila sama, itu tak berarti juga tujuannya sama. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini