Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Marah


[Artikel 32#, kategori wanita] Kadang... Kita tidak ingin kehilangan rasa nyaman saat suasananya menyenangkan. Bisa bertahan berhari-hari dan terus menumbuhkan kenangan. Hanya saja, itu tidak terjadi. Bertanya lebih baik atau diam agar keadaan tidak tambah runyam.

Kemarin itu suasananya menyenangkan. Dia begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Saya berharap momen itu bertahan.

Pagi hari, setelah esoknya, keadaan masih terjaga dan belum berubah. Saya bakal melewati hari penuh semangat kalau begini terus. Maklum, puasa membuat tenaga sering hilang yang berdampak kehilangan konsentrasi. Termasuk lemas.

Marah besar

Saya tidak menyangka bahwa kali ini jadi masalah. Berharap mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban agar tahu apakah ada yang salah, malah blunder.

Kalimat 'baik-baik saja' yang udah disampaikan masih membuat saya penasaran. Saya tidak ingin kecolongan lagi ketika dia merasa sedih atau marah di tempat kerjanya, saya tidak tahu. Saya berharap ia terbuka.

Mungkin kamu juga akan kesel kalau ditanyai hal yang sama berulang kali. Dan di sana, kesalahan saya dengan niat baik malah menjadi amarah yang meledak-ledak.

Saya diam.
Sedikit kesel karena dikata-katain, meski tidak mengerti bahasanya.

Dalam pikiran terdalam, saya tidak akan bertanya atau mengganggunya lagi. Saya kapok meski pikiran saya mengarah ke artikel yang saya baca tentang selingkuh.

Ah.. tidak tidak. Semakin negatif saja pikiran saya saat berusaha diam mendengarkannya.

Telpon dimatikan

Daripada terus memberikan dia panggung untuk melepaskan amarah kepada saya, terpaksa saya matikan telepon sore itu. Dia yang nyuruh, saya hanya melakukan apa yang ia mau.

*Gambar : Ilustrasi
...

Saya masih terus belajar bagaimana memperlakukan wanita. Hari ini bahagia, besok atau lusa langsung menderita penuh rasa amarah. Seperti menjaga konsisten, itu benar-benar sulit. Ini yang harus dipahami kaum pria tentang wanita. 

Untunglah, ia menghubungi saya kemudian. Saya pikir akan berbicara lagi dengannya esok hari. Ketika semua reda dan perasaannya kembali siap.

Ia adalah wanita cantik ketika moodnya lagi bagus. Dan lebih seksi saat ia terus menunjukkan sikapnya penuh tawa dan canda. Saya menyukai dia. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini