Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kenormalan Baru, Bangun Jam 1 Dini Hari


[Artikel 89#, kategori aktivitas] Mata ini mulai terbuka. Mengalirkan sinyal ke pikiran, lalu memprosesnya ke seluruh tubuh. Memori sebelum tidur masih tersimpang, intuisi saya bergerak bersamaan tubuh pertama yang beranjak, yaitu tangan yang sedang mencari-cari smartphone. Oh, masih jam 1 dini hari.

Istilah kenormalan baru menjadi perbincangan hangat setelah pemerintah ikut memproklamirkan. Padahal bagi para pemasar, istilah ini adalah identitas. Sesuatu yang digunakan untuk menarik perhatian, segmentasi yang berhubungan dengan konsumen.

Saya mengalami kenormalan baru setelah bulan puasa. Tanpa sadar, tubuh saya masih merekam pola yang saya buat selama sahur. Bangun jam 1 dini hari, dan sahur jam 3 (tapi diganti jadi jam 4). Itu jadi sarapan sepertinya, mengingat waktu makan saya selanjutnya adalah jam 11 siang.

Keuntungan

Sebelumnya, tubuh saya memiliki alarm tersendiri yang sudah saya buat beberapa tahun belakangan. Tidur di bawah jam 9 malam dan bangun jam 3 dini hari. Mandi sebelum salat subuh dan berolahraga. 

Sekarang, alarm itu berbunyi lebih cepat. Bahkan tubuh ini sudah bangun sebelum alarm ponsel saya berbunyi yang saya atur jam 1.20 wib. 

Kenormalan baru ini membuat saya memiliki banyak waktu. Saya lebih fleksibel dan tidak terburu-buru melakukan pekerjaan pagi hari.

Kerugian

Tapi dengan umur saya sekarang, saya harus juga menerima resiko. Saya tidak punya jam tidur berkualitas, minimal 6 jam. Kenormalan baru ini malah memangkasnya menjadi 4-5 jam. Saya khawatir dengan kesehatan saya di masa depan.

Kantuk adalah musuh terbesar untuk kenormalan baru ini. Dan dampaknya juga bisa merusak mood kala tubuh tidak bisa memikul kembali rasa kantuk, meski berbagai upaya dilakukan.

Mandi, ngopi adalah bagian strategi bagaimana saya tetap hidup di waktu pagi dini hari. Terutama otak yang membutuhkan dorongan karena banyak digunakan. Seperti menulis semisalnya.

...

Saya pernah mengalami hal seperti ini, tidur hanya 4 jam sehari. Untuk orang muda, itu tidak masalah. Namun sekarang rasanya saya merasa bersalah.

Saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Yang saya tahu, saya hanya menikmati keuntungannya saja. Semoga tubuh ini sehat selalu. Amin.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini