Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo Mei 2020


[Artikel #71, kategori catatan] Tidak ada perayaan kali ini untuk berbagai acara di Kota Semarang, termasuk ulang tahun yang ke-473. Ya, tahun ini Ibu Kota Jawa Tengah bertambah lagi usianya.

Di awal bulan, guyuran hujan dari sore hingga dini hari semacam berkah di tengah pandemi Corona yang menggrogoti.

Apa kabar saya? Sehat sebenarnya, namun sedang lemas karena puasa. Hingga hari ke-9, puasa saya alhamdulillah lancar. Dorongan kecil ternyata mampu memberi semangat ketika godaan terus menggoyang pikiran.

Hujan awal bulan
Hujan mendadak turun ketika persiapan untuk berbuka tinggal menunggu hitungan menit. Tempat terbaik kali ini menanti suara azan berkumandang adalah lantai atas. Semarang kecil bisa dilihat dari sini.

Langit yang memang sedari tadi mendung, akhirnya tak tertahan untuk melepaskan curah airnya ke bawah. Hujan semakin deras, suara azan rasanya semakin sayup terdengar. Padahal segelas air jahe hangat sudah saya bawa ke atas.

Korona

Bulan April adalah bulan yang benar-benar hemat agar bulan berikutnya tidak sakit-sakit amat. Dampak Korona yang masih jadi bencana bukan saja mencekik keuangan yang berlabel sebagai bloger, tapi juga membunuh aktivitas yang biasanya banyak memberi motivasi.

Mei rasanya tidak jauh beda. Merayakan Hari Raya setiap tahun di Semarang kali ini tidak ada perbedaan. Tidak ada makanan khas hari raya dan tetap sendiri meski sudah memiliki hubungan.

Saya berharap, bulan Mei masih bisa memberi celah saya untuk bernafas. Banyak kebutuhan yang harus saya gapai. Apalagi keluarga Tinky Family yang hanya mengandalkan makanan.


Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini