Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

11 Bulan: Mata Air di Padang Pasir

[Artikel 17#, kategori Keuangan] Kedatangan pemilik rumah—keluarga—bagaikan mata air yang menyegarkan di tengah padang pasir kehidupan. Apakah ini akhir dari penantian panjang, atau hanya oase sementara? 

Bulan ke-11 menjadi titik balik, memutus rantai kepasrahan dan mengajarkan hikmah berharga: kesabaran adalah kunci. Selama kita bertahan, esok yang lebih baik pasti tiba. Indah pada waktunya.

Kelegaan Sementara

Kehadiran mereka membawa kehidupan baru. Berat badanku bertambah, seolah aku kembali ke masa sebelum bulan ke-11 ini. Meja makan yang biasanya sepi kini penuh hidangan mewah. 

Stok dapur yang tadinya sunyi kini berlimpah. Pemandangan langka yang menghangatkan hati, mengobati rindu akan kebersamaan dan kelezatan yang lama hilang.

Bayang-Bayang Ketidakpastian

Namun, meski perut terpuaskan, dompetku masih kosong. Penghasilan sebagai blogger belum stabil, pemasukan pun serupa fatamorgana—terlihat dekat, namun sulit digapai. 

Ketika keluarga pergi nanti, aku tahu perjuangan akan kembali menanti. Keuangan terus membara, memaksaku mencari celah di tengah kesulitan yang nyaris tak terlihat.

Godaan dan Keyakinan

Sering kali godaan datang, “Tinggalkan saja kota ini! Dotsemarang tak memberimu apa-apa. Pergi ke tempat lain, hidupmu akan lebih baik.” Kata-kata itu menggema, seolah menjanjikan surga di luar sana. 

Tapi aku masih yakin pada apa yang telah kurintis. Setiap hari adalah perjuangan—hati berusaha setia, meski realita sering berkata sebaliknya.

Aku hanya perlu bersabar, seperti di bulan ke-11 ini, menanti waktu yang tepat untuk memetik manisnya buah kesabaran. Lama? Pasti. Tapi aku yakin, perjuangan ini tak akan sia-sia.

Jalan yang Kupilih

Jika kutinggalkan semua dan memulai dari nol, perjuanganku selama ini bagaikan ampas—waktu, memori, dan kenangan yang menguatkanku seolah tak berarti. Tidak, aku memilih bertahan. Mempertahankan mimpi yang telah kutanam sejak awal, meski penuh liku.

Momen untuk Dinikmati

Untuk saat ini, biarlah aku menikmati kehadiran keluarga. Mereka menghangatkan suasana, melepas dahaga kasih sayang, dan mengisi perut yang selama ini hanya merasakan hidangan sederhana yang itu-itu saja.

Terima kasih, Tuhan, atas karunia ini. Momen ini adalah pengingat bahwa di tengah perjuangan, ada cahaya harapan yang selalu menyala.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini