Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

9 Bulan : Dapat THR?

[Artikel 14#, kategori Keuangan] Lebaran Idulfitri yang diharapkan ternyata tidak sesuai. Momen bahagia yang dibagikan seakan hanya pemanis bagi yang merayakan. Tertunduk lesu karena harus mencari ide agar dapat terus bertahan hidup dari hutang.

Saya tidak menyangka di umur sekarang masih mendambakan diberi THR atau Tunjangan Hari Raya. Padahal dari segi umur sudah tidak muda lagi dan dianggap mandiri.

Namun kenangan indah masa anak-anak yang begitu menyenangkan ternyata hanya jadi beban di umur sekarang. Saya pikir dapat mengulangnya kembali, ternyata benar-benar seakan disuntik mati. 

Permasalahan lain

Bulan ini sudah berjalan ke-9, beberapa bulan lagi akan genap setahun. Dari sisi kalender masehi, ini pun belum setengah tahun. Tapi perasaan was-was makin mengkhawatirkan.

Gagalnya mendapatkan THR memang sudah diprediksi meski tetap berharap lebih. Saya pasrah dengan keadaan dan terus bersabar sambil mengharap keajaiban.

Saat menunggu, keputusan meminjamkan uang sisa kepada si Bapak akhirnya menjadi bumerang tersendiri saat ditagih.

Ya, orang tua kandung. Ngapain juga ditagih-tagih, toh sampai mati pun tidak akan dapat membalas jasa-jasanya jika melihat persepektif sebagai anak.

Sayangnya persoalan ini tidak sesederhana tersebut. Saya memberikan uang kepada beliau karena ada perjanjian meski tidak ada hitam di atas putih.

Dari awal saya menegaskan untuk mengembalikan sebelum tanggal 10 awal bulan ini. Hasilnya saat ditagih, saya merasa mengulang masa lalu. Alasan yang super panjang dan stop, saya tidak ingin ribet.

Uang yang harus saya bayar cicilan harus kembali, itu saja. Saya tidak bisa melihat hubungan darah ketika saya sendiri sudah kesulitan.

...

Saya berada di 2 sisi berbeda tentang arti kepercayaan. Satu dengan keluarga sendiri dan satunya dengan keluarga yang juga mempercayai saya menjaga tempat tinggalnya.

Saya ingin menjaga kepercayaan tersebut, tapi bagaimana dengan isi perut saya. Pekerjaan saya tidak baik-baik saja dan rasanya sulit bahwa orang terdekat saya kembali yang merusaknya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger