Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Era Post Truth Society


[Artikel 22#, kategori Internet] Saya baru menyadari istilah post truth saat acara flash blogging yang diselenggarakan Kominfo, minggu kemarin. Salah satu nara sumbernya, Ndorokakung, bicara tentang fenomena yang saat ini menghinggapi masyarakat, baik dunia maupun bangsa kita. Apakah post truth ini?

Gambarannya sederhana sebenarnya. Ya, aktivitas kita yang saat ini kebanyakan dihabiskan di media sosial. Sebagian masyarakat mulai meributkan hal - hal yang sebenarnya, jika dulu menurut Ndorokakung itu biasa, maka yang terjadi sekarang seperti sebuah headline berita yang sangat geger. 

Post Truth Society menurut Najib yang saya kutip dari kanan detikcom (4/8) adalah masyarakat yang tidak mementingkan fakta dalam proses komunikasi sosial. Prefensinya pada kesukaan, bukan kepada kebenaran.

Maka tidak heran saat ini berita hoax menjadi santapan yang sulit dihindari. Mereka mencari yang memuaskan emosi, fakta urusan belakangan.

"Problem sekarang bukan kelangkaan informasi, tapi informasi berlebih. Tsunami informasi sehingga ada problem menyaring informasi yang akurat. Sehingga justru sebagian besar tidak akurat. Dia serap info tidak akurat," Muhammad Najib Azca, Sosiolog Fisipol UGM.

Masalah lainnya adalah tergerusnya kepercayaan kepada institusi negara dan media massa yang selama ini menyediakan informasi. Ada otoritas baru yang memberikan informasi, namun informasinya tidak benar. Akibatnya timbul perselisihan saat berkomunikasi, karena ada sebagian orang berpegangan bukan kepada fakta.

...

Jadi pada intinya, era saat ini ditengah era teknologi dan media sosial yang begitu luar biasa, ada era yang masuk tanpa kita sadari. Kepercayaan tidak lagi didasarkan sesuatu yang berhubungan dengan fakta. Kita menyukai berbagi apapun yang seharusnya dapat memilih dan memilah.

Asal retweet, asal love dan semua didasarkan atas kesukaan tanpa berpikir siapa pengikutnya, dan apa dampaknya. Saya berharap, ini tidak terjadi kepada saya meski saya akui ini tidak mudah.

Mari berusaha mencerna informasi dengan bijak dan baik. Daripada memusingkan apa yang kita bagi, lebih baik kita bicara tentang prestasi dan personal branding yang punya nilai jual dan yang positif.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini