Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

[Masih] Pria Biasa


[Artikel 3#, kategori Pria 31 Tahun] Awal Agustus, ini berarti saya sudah melewati hari-hari krusial sebagai pria dewasa berumur 31 tahun. Tidak ada bedanya keseharian saya dengan umur sebelumnya, kecuali memikirkan bagaimana bekerja lebih keras lagi. 

Saya masih mencintai Pagi,
Dan saya juga masih rutin bersepeda

Rutinitas dini hari saya juga masih sama. Yang membedakan dengan tahun-tahun sebelumnya adalah angka 1 dibalik umur saya. Serius, saya tak banyak berubah. Tapi saya bersyukur, rambut saya masih tebal.

Beberapa minggu perjalanan saya diumur yang bertambah ini, saya bertemu dengan seseorang dari masa lalu. Seorang wanita cantik, tubuh ideal dan kini, ia lebih religi ketimbang beberapa tahun lalu.

Saya pikir ini kesempatan bagus untuk mengucapkan apa kabar. Karena orangnya memang ramah, komunikasi kami sangat lancar. Hanya saja saat disinggung soal masa depan, perempuan kenalan saya ini yang masih single sudah punya impian sendiri seperti apa pria pendampingnya. 

Ah..sepertinya saya bukan pria impiannya. Kadang saya berpikir aneh, memikirkan orang lain tentang mimpi dan tak ingin merusaknya. Perempuan baik dan penuh semangat seperti dia, sebaiknya memang, memiliki pendamping yang kurang lebih sama dengan dia. Saya memilih mundur dan cuma bertahan beberapa hari berkomunikasi dengannya. 

Saya kembali menjadi pria pengecut untuk berkorban mendapatkan wanita hebat. Saya seolah terbelenggu bagaimana membangun reputasi saya tentang kebahagiaan yang harus diraih. Bagaimana saya bisa mengejarnya kalau saya tak punya senjata.

Bulan Agustus, saya harus melupakannya dan kembali mencari wanita lain yang mungkin ada di suatu tempat. Wanita yang tak membuat saya berpikir keras tentang masa depan dan impiannya dan mau menemani saya. Itu sulit, hanya saja saya sedang berusaha mencobanya.

Bukan berarti tidak memberi kesempatan pada wanita yang lain. Tapi begitulah watak Cancer, melihat bunga selalu yang indah-indah dan menyenangkan.

Ketika melihat teman saya yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, saya berpikir sejenak. Andai saya ada diposisi mereka, apakah saya akan tetap menulis perjalanan hidup saya.

Secangkir kopi sepertinya cocok menemani tiap waktu untuk aktivitas saya tersebut. Dan sebuah rahasia di bulan Juli kemarin adalah kopi sachet yang saya beli sekarang harganya lebih murah dari harga biasanya. Lumayan menghemat pengeluaran.

Selamat datang Agustus,
Ini adalah postingan tentang pria 31 tahun.

*Foto di atas hanya sebagai ilustrasi

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini