Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pekan Kedua Liga Inggris, Ditahan Imbang Wolves dan Kisah Pogba


[Artikel 85#, kategori MU] Kemenangan pekan pertama akhirnya disambut dengan akhirnya saya menonton full pekan kedua, Selasa dini hari (20/8). Namun sayangnya, hasil yang diperoleh malah seri. Apakah karena saya? Atau Paul Pogba yang gagal cetak gol dari titik pinalti? Ada-ada saja.

Euforia kemenangan Manchester United di pekan pertama seharusnya berdampak pada pekan kedua. Sebagai fans, tentu berpikir ke sana. Apalagi lawannya bukan top 5 besar tim Liga Inggris.

Martial memberi harapan besar dengan golnya babak pertama. Mungkin babak kedua, tim lebih banyak mencetak gol.

Pogba dan rasis

Saat harapan itu kandas, lawan mencetak gol, ada satu harapan lagi untuk membawa 3 poin dari kandang Wolves. Sebuah keputusan wasit dengan menunjuk kotak pinalti. Paul Pogba menjadi algojo dan semua harap-harap cemas.

Dan tidak!
Bola berhasil ditepis kiper. Dan di sinilah nama Pogba lebih banyak dibicarakan ketimbang hasil yang diperoleh tim (saking biasanya).

Hingga pertandingan usai, skor tidak berubah menjadi 1-1. Kegagalan ini kembali menandakan bahwa setiap tim bermain di kandang Wolves selalu kesulitan.

Pogba, tentu saja dicibir. Saya pikir netizen di Indonesia saja yang keras dengan komen-komennya di medsos. Ternyata kegagalan Pogba berbuntut panjang. Banyak yang berkomentar rasis di media sosial. Begitulah era sekarang.

Selain Pogba yang jadi kambing hitam, meski begitu para pemain banyak yang mengecam, keputusan pelatih juga dipertanyakan.

Menit 80 baru memasukkan pemain pengganti. Sangat terlambat untuk mengubah jalannya pertandingan. Di sini, saya juga merasa kecewa. Biasanya era Alex Ferguson, menit 70 adalah waktu yang saya nanti. Siapa pemain pengganti yang masuk.

...

Begitulah pertandingan. Kesalahan sekecil apapun di era sekarang berdampak besar, khususnya di media sosial. Bagaimana cara tim menangani adalah solusi terbaik buat masa depan pemain lainnya.

Dengan skor seri 1-1 ini, Manchester United berada di posisi ke-4. Liverpool paling atas, diikuti Arsenal dan Manchester City.

Pertandingan berikutnya, tim melawan Crystal Palace hari Sabtu (24/8) jam 9 malam.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger