Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Penghuni Baru


[Artikel 4#, kategori rumah] Saya jadi dejavu ketika keadaan yang pernah saya alami, saat memutuskan tinggal di Semarang, kini terjadi pada seseorang yang keadaannya sama seperti saya. Bedanya, ia adalah perempuan. Apakah ini berarti ada kesegaran di padang pasir?

Beberapa hari setelah Idul Adha, sosok baru yang sebelumnya sudah datang ke Semarang ini akhirnya benar-benar tinggal di rumah.

Dari sisi penghuni, tentu ini bagus seharusnya. Rumah tidak melulu hanya didominasi penghuni lama yang salah satunya ada saya di sana.

Apalagi penghuni baru ini bagian dari keluarga si pemilik rumah. Menerima saja jadinya, tanpa pikir panjang karena keputusan juga bukan saya yang pegang.

Dejavu

Bila saya ibaratkan cerita dalam komik online sebagai tokoh pria, maka kali ini kebalikannya. Penghuni baru ini adalah tokoh perempuannya.

Akhir-akhir ini memang saya lebih menyukai komik ketimbang drama Korea. Jadi jangan heran, saya menyambungkan cerita ini ke sana (komik).

Keadannya hampir mirip. Datang ke Semarang dengan tujuan pendidikan. Masih semangat 45 dan biasanya dalam benak pikiran, ada misi untuk membanggakan orang tua dan orang-orang yang mendorong untuk lebih tinggi dalam bermimpi.

Saya tahu itu, karena mengalaminya. Bila saya adalah tokoh gagal, saya berharap dia tidak seperti saya. Meratapi nasib selalu dengan tulisan.

*Selamat datang penghuni baru. Semoga kita semua jadi akrab di masa depan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini