Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Sampah di Lapangan Futsal


[Artikel 38#, kategori futsal] Entah apa yang dipikirkan orang-orang yang bermain di lapangan futsal ini. Meninggalkan sampah dan tidak membersihkannya. Apakah ini kebiasaan atau bawaan? Saya sangat risih melihatnya, mengingat pengguna berikutnya adalah saya dan teman-teman.

Mungkin ini yang disebutkan di media sosial, bicara peduli lingkungan hanya di saat sedang aktif di medsos. Di lapangan, tindakannya sama saja.

Jumat, minggu awal bulan Agustus, pemandangan sampah di lapangan semakin rutin saya lihat. Tim yang bermain sebelum tim saya bermain semenjak rutin bermain, selalu meninggalkan sisa-sisa seperti sedotan, gelas air plastik dan bahkan kulit jeruk.

Saya tidak berpikir bahwa semua di dalam lapangan adalah jahat. Saya hanya mengkritisi kebiasaan yang meninggalkan sisa-sisa barang itu saja. Apalagi pengurus yang memang tidak membersihkan dulu di dalam lapangan.

Apakah itu kebiasaan atau bawaan?

Dilema ini tidak akan berakhir bila saya hanya bicara di dalam pikiran saja atau menuliskan ini. Setelah bermain, saya membersihkannya. Meski tidak semua area, saya tidak ingin juga setelah kami bermain, saya dan tim dicap juga sebagai biangnya membuang sampah sembarangan.

Bila bicara kebiasaan, tentunya dapat diubah. Itu dengan niat kuat. Namun bila kebiasaan itu sudah mendarah daging, maka bakalan sulit.

Bawaan, entah kenapa ini bakal jadi sedikit negatif. Sikap bawaan lebih sulit diubah. Bagaimanapun diberitahu, atau budaya hingga peraturan yang ditawarkan, prilakunya sulit sekali menjadi lebih baik.

Saya mengingat seseorang yang hidup dengan bawaan. Padahal sudah jelas budayanya ada, dan peraturannya tertulis. Tetap saja bebal.

Saya tidak akan bicara kepada mereka, karena saya tahu itu hanya akan sia-sia. Sebisa mungkin saya berbicara lewat tindakan. Selama saya tidak kelelahan setelah bermain, saya pasti bersihkan sisa-sisa bawaan orang-orang yang bermain sebelum kami.

...

Mungkin saja, di masa depan oleh pengurus lapangan dibuatkan pengumuman tertulis untuk tidak meninggalkan sampah di dalam lapangan.

Jangan biarkan kenyamanan membuat orang lain yang kena dampaknya yang malah berpikir sebaliknya. Menjadi lebih baik, tentu saja harus dilakukan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini