Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Lebaran, Futsal Libur


[Artikel 35#, kategori futsal] Hari ketiga lebaran, hari Jumat, futsal masih libur. Bukan saja tidak mungkin untuk kembali ke lapangan malam ini. Kondisi stadion futsal pun libur. Memaklumi ini memang rasanya membuat cemburu. Apalagi orang-orang yang sudah kembali bekerja. Atau mereka tidak libur (mal dan minimarket).

Ketika merasa hidup menyebalkan, lihatlah orang-orang yang lebih menderita. Mereka tidak dapat menentukan hidup diri mereka sendiri karena sudah terikat kontrak. Mengeluh, sama saja mengakhiri cicilan yang sudah diambil yang harus dibayar tiap bulan dari gaji mereka.

Dua minggu sudah saya tidak bermain futsal. Satu sisi sebenarnya dapat menghemat pengeluaran untuk membayar iuran sekali main. Tapi sisi lain, ada emosi yang harus saya keluarkan.

Dalam beberapa kali kesempatan, perjalanan hidup terus mengarahkan saya untuk terus belajar ketika menghadapi kekesalan, kemarahan atau perasaan tidak menyenangkan.

Bertahanlah! Begitu pikiran saya mencoba mengontrol tubuh saya.
Karena dengan bertahan, akan datang kesempatan untuk keluar dari semua itu.

Hari ini saya bisa makan enak, mewah bahkan sangat lezat saat datang di sebuah acara. Esok harinya, saya kembali menjadi manusia yang mengandalkan nasi adalah segalanya meski tidak ada lauk sekalipun.

Waktu terus berputar, tak mungkin selalu ada dibawah. Libur futsal kali ini memang cukup lama, namun saya harus memahami semua kondisi yang ada.

Jumat depan, saya akan melepaskan semua perasaan saya yang terbenam selama libur. Saya ingin bermain dan bermain.

Apakah kamu mau menemani?

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini