Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kita Sangat Dekat, Tapi Tetap Berjarak


[Artikel 31#, kategori Cinta] Melihat tokoh anime yang sedang berpasangan namun tidak bisa bertemu, ada perasaan yang ingin disampaikan. Mengapa tidak bertemu saja. Padahal sangat dekat. Melihat dari bawah pepohonan di depan gedung, kenapa pasangannya mengacuhkannya.

Kekuatan cinta itu seharusnya luar biasa. Selalu ingin dekat dan bertemu. Ketika itu datang, rasa lelah dan tubuh yang tidak enak (sakit) dapat diberi dispensasi. 

Minggu pagi, ketika sebagian orang berkerumun di jalan, matahari memancarkan kehangatannya. Beberapa orang serius berolahraga, anak kecil tersenyum bahagia dengan mainannya dan sepasang kekasih asyik berselfie ria.

Saya duduk diseberang gedung menanti orang yang sangat dirindu. Akhirnya bisa ketemu di suasana car free day pikiran saya meronta-ronta yang membuat tokoh dalam anime terlihat pipinya yang memerah.

Saya tahu, ini tidak mudah. Dari perjalanan waktu menjalin hubungan, minggu pagi selalu butuh keyakinan untuk mengajaknya.

Kini, ia sangat dekat. Di depan mata. Saya menunggunya keluar. Pesan saya tidak dibalas sama sekali hingga saya akhirnya tahu bahwa keadaannyalah yang harus dimengerti. Ia lelah dan masih sibuk.

Saya pulang memendam perasaan dan tubuh yang super lelah. Saya lupa bahwa tubuh ini semalam sudah rubuh. Kekuatan cintalah yang membuat saya yakin dengan keadaan.

Roda berputar di atas jalanan tanpa berpikir lagi bahwa hari ini masih belum beruntung. Rindu masih terselip dalam pesan yang belum dibalas.

Dalam cerita anime, mungkin si pria akan berjuang menunggu. Tapi dalam cerita sesungguhnya, saya tidak mampu berjuang. Tubuh semakin lelah dan kasurlah tempat terbaik menuntaskan hari demi hari agar cepat kembali baik.

Dan saya tidak mengerti bahwa semenjak itu, prilaku saya berubah. Rindu yang membuncah, akhirnya berubah menjadi rasa bersalah.

Kita sangat, tapi mengapa masih selalu ada jarak.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini