Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Jumat yang Selalu Buruk (Asmara)


[Artikel 27#, kategori Cinta] Saya tak habis pikir dibalik kesenangan saya bermain futsal, mendatangkan kebahagiaan, ada sisi lain yang membawa keburukan. Perasaan kesal, sedih, dan buruk. Tiap Jumat, tragedi itu selalu datang. 

Saya mencoba menganalisis, masalah hubungan saya kenapa selalu seminggu sekali datang. Nggak bisa santai atau bahkan nyantai lama gitu tanpa masalah.

Terbaru, pada saat sudah berhasil mengidentifikasi masalah tiap hari Jumat, eh tetap saja datang lagi. Dan kali ini lebih parah.

Hubungan saya masih berjalan dengan pasangan. Bisa dikatakan aneh setelah deklarasi putus yang disampaikan.

Oke, saya bahagia saat itu. Tidak mengira, bahkan tidak menyangka kejadian seperti di film-film itu datang kepada saya.

Hubungan yang baik tentu saja ingin dibagikan dan diceritakan. Tapi malah lupa bagaimana bahagia itu dituliskan di halaman ini.

Saat menikmati hari balikan, Jumat sudah datang kembali dengan perkara baru. Kami diam-diaman. Saya malas bertanya kabarnya meski sangat dekat dengan jarak rumah saya.

Pesan terakhir yang dikirimkan adalah ia mengatakan membenci saya. Sudah berusaha dan bahkan mengirimkan pesan kembali, ia tak ada membalas sama sekali.

Ia pernah berujar bahwa ia ingin diperhatikan dan saya orang tidak peka. Sepertinya dia lupa bahwa dirinya sendiri sudah jarang bertanya kabar tentang saya.

Jumat depan, semisal tidak ada kabar, mungkin saya sudah menyerah dengan hubungan ini. Biarkan saya menjadi egois dan manusia tak berbudi. Karena saya tahu, mungkin ini sudah saatnya saya melepaskan Jumat untuk kembali ke kehidupan normal.

Harapan lebih tentang masa depan bersama dia rasanya tidak sesuai harapan dengan apa yang ia pikirkan. Ia mau bahagia, tapi tak mau menderita. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini