Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Putus Episode 2


Kesempatan yang hinggap tak disia-siakan. Namun kembali berakhir pada malam kesunyian. Tubuh yang terasa sangat lelah setelah futsal, terlepas begitu saja isi pikiran. Kita lebih baik putus. Dan episode kedua kembali dimulai.

Jangan menekan wanita disaat tubuh terasa berat. Jangan memaksa disaat ia tidak suka. Dan jangan berkata yang tidak-tidak, nanti dia lebih galak. 

Rasanya waktu tidak berpihak pada pria masa lalu. Wanita sekarang memiliki kriteria tinggi untuk dirinya terasa nyaman dalam berhubungan dengan pasangan.

Sedikit kesalahan yang dianggap biasa oleh para pria masa lalu, baginya sebuah kutukan atau hujatan yang luar biasa.

Pikiran wanita

Putus..putus dan putus. Mereka tidak lelah mengatakan hal tersebut. Mereka menuruti ego dan perasaan yang mudah rapuh. Mereka melupakan prianya di tempat yang berbeda di satu waktu yang sama.

Wanita seolah memiliki pasukan dengan alat tempur yang melindungi. Sedikit celah saja terbuka dan itu mengancam, ia tak segan mengeluarkan peluru andalannya. PUTUS!

...

Episode dua ini memberikan pengalaman luar biasa. Ketika kamu berhadapan dengan wanita seperti ini, sebaiknya jangan dipaksa atau ditekan. 

Ucapan cinta dan perhatian yang kamu berikan setiap saat, belum tentu membuatnya berhenti mengancammu dengan kata 'putus'.

Apakah ini berarti, kami para pria menjadi penakut? Lemah atau hancurnya harga diri? Tergantung kamu berpikir tentang hubunganmu. Kamu ingin mempertahankan atau mempersilahkan egomu mengambil alih.

Jika kamu masih sayang, pertahankan. Lihat ke depan, apa yang kamu bayangkan. Apa harapanmu dan keinginan besarmu dengannya? 

Sebaliknya, jika kamu memilih meninggalkan, pikirkan dampaknya. Apakah ini benar saat meninggalkan karena sudah dua kali diputus. Bila itu benar, dan melihat kesalahannya sebagai kekuatan untuk pergi, baiklah. Mari pergi meninggalkan dirinya bersama egonya.

*8 Maret 2019

Artikel terkait :

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini