Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ketagihan Menjadi Kiper


[Artikel 29#, kategori futsal]  Jumat kedua bulan Maret, penghuni lapangan lebih banyak dari sebelumnya. Bahkan terbagi menjadi dua tim. Itu patut dirayakan pastinya. Saya pun sudah mengambil posisi dibawah mistar.

Menjadi kiper akhir-akhir ini, setiap awal bermain, membuat saya semakin ketagihan. Tubuh saya semakin menerima berbagai tendangan yang menuju ke arah saya. Loncat sana, loncat sini. Terjang sana, terjang sini.

Seperti ada kepuasan saat tubuh terjatuh. Bahkan rasa sakit saat bola langsung menerjang wajah, saya anggap sebagai cobaan yang namanya penjaga gawang.

Meski menikmati, saya tidak dapat menjaga keperawanan gawang. Tidak mudah untuk seorang kiper pastinya. Bahkan saya terkadang kebobolan dengan bola-bola konyol yang sangat mudah dikirim pemain lawan.

Ketika keringat mulai bercucuran disekitar kening kepala dan rambut, saya memahami bahwa menjadi kiper, meski seolah hanya berada di depan gawang, membutuhkan tenaga yang banyak. Khususnya konsentrasi.

Perasaan lelah rupanya menghinggapi, meski tidak separah saat bermain tentunya.

Dampak buruknya

Saya tidak tahu bahwa saat kembali menjadi pemain di lapangan, bukan kiper, permainan saya berpengaruh. Sangat buruk dan buruk.

Saya banyak kehilangan konsentrasi, bahkan tenaga hingga sentuhan di kaki. Bola suka tidak dapat dijangkau, bahkan terlepas layaknya pemain pemula. Sungguh ironi.

Sampai-sampai sebuah keputusan bodoh saat berhasil mencuri bola dari pergerakan kiper yang berusaha maju, seharusnya saya bica mencetak gol karena gawangnya kosong, tidak mampu saya lakukan. Tang! Bola kena tiang. Bodoh ...dan bodoh.

...

Mencoba berbagai posisi dalam permainan futsal memang menyenangkan. Tapi kadang juga, membuat kita lupa daratan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini