Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tidak Mau Diberi Solusi


Sejujurnya tidak mudah menuruti perasaan ketika marah dibalas marah, lalu memberikan solusi untuk tetap menjaga hubungan. Karena kasih sayang yang masih tercurah, tidak ingin hilang begitu saja. Yang ada, memberi solusi.

Hubungan yang sepertinya melenggang ke depan dengan harapan bahagia, mulai menemukan titik jenuh. Tidak ada lagi kabar bahagia dalam sehari. Kata menginginkan malah menjadi sebuah kata paksaan yang dibalut dengan kalimat 'kamu tidak percaya aku lagi'.

Pria berada diujung jurang ketika kalimat itu muncul. Padahal niat awalnya baik dan belajar dari kesalahan masa lalu yang tiap berkomunikasi dengan pesan akan berakhir dengan pertengkaran.

Teks lebih pedas dari mulut. Begitu kira-kira.
Teks juga mudah dialihkan saat berkomunikasi dan akhirannya jadi basi.

Sebuah solusi untuk dia

Cinta itu membahagiakan. Memberi semangat pada kedua manusianya. Saling dukung mendukung dan tidak ingin mengakhiri waktu meski sudah berjam-jam berkomunikasi.

Namun sekarang tidak. Berkomunikasi mulai terlihat lama dibalas. Ditelpon dimatiin dengan alasan tidak punya headset dan tidak nyaman didengar.

Pasangan memikirkan kesalahan masa lalu bila ia teruskan mengirim teks yang dibalas selalu lama, hubungannya kembali berantakan. 

Setiap kesel, dibalas kesel. Tiap marah dibalas marah. Dan biasanya keluar kalimat ajaib atau memilih pergi. Masalah, tetap tidak terselesaikan dan bahkan terus terjadi karena ditumpuk-tumpuk.

Sebuah solusi untuknya diberikan, yaitu headphone agar komunikasi si pasangan tetap lancar. Ya, bisa ketebak. Solusi itu ditolak. Apakah ada yang salah? Apalagi akan diantarkan dengan cara bertemu.

Wanita seolah tidak menyukai sebuah solusi dan membenarkan masalah sebelumnya bahwa kalimat tidak percaya yang dilontarkan seakan melindungi dirinya dari tuduhan bahwa ia sedang berhubungan dengan yang lain.

Kata yang lain tidak sepatutnya keluar dari pikiran bila kepercayaan dan solusi itu diambil. Nyatanya, itu membenarkan dirinya.

...

Ketika awal hubungan terjalin, komunikasi sangat lancar dan sangat intens. Namun seiring waktu, pasangan selalu melindungi diri dengan kata-kata 'tidak punya rasa percaya'.

Padahal, komunikasi yang lancar diawal berubah karena hubunganya yang tidak lagi berjalan semestinya. Wanita merasa dituduh, merasa kesel, marah dan semuanya dibalik ke pasangannya.

Solusi itu tidak berguna.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini