Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

1 Tahun Lalu

[Artikel 67#, kategori Cinta] Pagi ini lagu yang menyayat hati jadi teman kala bersepeda sendiri (memang biasanya sendiri). Bukan soundtrack drama Korea yang biasa, atau mendadak Judika kala terluka. Tapi lagu dari band Naff. Musiknya masih laku di telinga.

Setelah semalam mendengar pengakuannya, entah kenapa sedihnya baru kerasa pagi harinya. Seolah tidak terima, meski saya tahu saya sudah tidak lagi bersamanya. Alias mantan.

Pertemuan 

Setelah menuntaskan kesedihan lewat mata yang berkaca-kaca di jalan, siang harinya tidak sengaja menengok kenangan yang ditawarkan Facebook.

Ternyata tanggal 26 Agustus tahun lalu adalah kenangan bersamanya saat ia akhirnya kembali pulang setelah 6 bulan berpisah.

Gambar bandara yang kembali mempertemukan kami waktu itu seolah mengatakan seharusnya saya bahagia hari ini. Sudah 1 tahun berlalu.

Sayang sekali, bila tahun lalu adalah pertemuan. Tahun ini adalah perpisahan. Tidak menyangka bulan Agustus punya kenangan ini.

Menepi

Kesedihan saya beberapa hari sebelumnya yang masih saya pikirkan jadi bertambah hari ini. Belum lagi kenangan yang ditampilkan kembali.

Saya tidak percaya bahwa apa yang saya jaga, saya pertahankan, harus dilepaskan begitu saja untuknya.

Tidak masalah sebenarnya, mungkin saya saja yang banyak berpikir dan terbawa perasaan.

Menepi, salah satu kata yang ada di lirik lagu Naff. Entah di mana kata itu muncul. Sangat mewakili perasaan hari ini.

Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak akan kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu.

...

Mari menepi dari kehidupan orang lain. Dan biarkan mereka menulis masa depannya sendiri.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini