Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Sayur Nangka

[Artikel 94#, kategori catatan] Niatnya beli sayur pare, tapi 3 warteg yang didatangi tidak menjual, terpaksa beli sayur nangka. Selama 2 hari makan ini, setidaknya ada nasi. 

Cuma beli 4 ribu rupiah sudah dapat banyak, pikir saya saat itu setelah harapan menyantap sayur pare kandas di warteg ketiga. 

Padahal sebelumnya sudah beli sayur pare dan dapat. Entahlah, lagi pengen makan sayur yang pahitnya itu buat nagih. 

Meski tanpa udang, rasanya yang khas membawa memori saat masih kecil. Rindu masakan rumah saat masih Sekolah dulu. Campuran udangnya sangat nikmat.

Bila sayur nangka beli 4 ribuan, sayur pare sebelumnya cuma 3 ribu dan dimakan untuk 2 hari. Maksud hemat sebenarnya, tapi juga membawa kenangan.

Sayur nangka meski tak banyak kenangan, juga termasuk makanan yang sering dimasak di rumah dulu.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini