Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Cokelat dari Malaysia

[Artikel 65#, kategori Cinta] Salah satu oleh-oleh yang dibawanya adalah sekotak cokelat. Bukan hanya satu, tapi dua. Saat itu, bahagia rasanya dan tidak menyangka ia begitu peduli tentang hal-hal kecil yang tidak semua orang bisa lakukan.

Hari ini, akhirnya saya membuangnya. Kotak yang selalu ada di meja kerja dari pertama kali ia datang dari Malaysia. Sangat lama meski isinya sendiri sudah dimakan semua.

Keputusan yang sulit sebenarnya karena kenangannya luar biasa. Dan mungkin akan sulit ditemukan di Indonesia. Saya harap gambar ini akan mengingatkan saya ketika kembali mengingatnya.

Sudah berakhir

Sebenarnya komunikasi kami tidak putus begitu saja. Hanya saja, hubungan kami benar-benar sudah berakhir. Apalagi saat ia bercerita tentang kekasih barunya lagi di awal bulan Agustus. 

Bila dikatakan sebuah prestasi, mungkin benar ia sangat berprestasi ketimbang saya. Saat kami sudah berpisah beberapa bulan lalu dan hingga kini, ia sudah dua kali berpacaran. Sedangkan saya? 

Karena sudah saatnya untuk melepaskan, kotak cokelat ini sebaiknya dibuang saja. Saya rasa dia baik-baik saja meski kenangan cokelatnya dibuang. Toh, dia sudah nyaman dengan pria lain.

Berbeda dengan saya yang selalu memandang kotak cokelat. Senyum yang diberikan, tawa yang ditampilkan hanyalah sebuah topeng diantara sesaknya perasaan yang tidak ingin ditinggalkan.

Selamat tinggal kotak cokelat, maafkan saya yang membuangmu. Semoga perasaan saya lebih baik lagi meski tanpamu.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini