Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kekhawatiran Tentang Uang dan Keluarga

[Artikel 3#, kategori pria 35 tahun] Andai waktu bisa diputar lagi, rasanya tidak ingin menyia-nyiakan uang. Apalagi bukan lahir dari golongan orang berada. Malah yang ada, orang tua utang sana-sni. Imbasnya sekarang, gali lubang tutup lubang. 

Di umur 35 tahun, kekhawatiran belum menikah adalah hal besar yang ada dalam pikiran. Setiap pria maupun wanita bahkan.

Hanya saja, kekhawatiran tentang uang adalah paling terdepan saat ini. Puncak segala puncak, terutama menyangkut keluarga.

Tidak kompeten

Andai orang tua memiliki kekuatan finansial, berapa rupiah pun yang saya dapatkan tentu sangat senang. Tapi sayang sebaliknya. Sebesar apapun yang didapat, sadar tidak sadar keluarga memerlukan.

Bila ada sih tidak masalah. Nah kalau nggak ada, seakan dianggap tidak berbakti. Satu sisi sedang berusaha, satu sisi didorong pada ketidakputusasaan. 

Percuma bekerja kalau tidak ada uangnya. Percuma mengejar passion, kalau akhirnya dipinjam uangnya tidak bisa. Dan seterusnya.

Saya benar-benar tidak kompeten menjadi anak. Padahal niat nabung buat biaya hidup dan biaya nikah (saking tidak bisa diharapkannya keluarga soal finansial).

Bekerja keraslah kamu selagi muda

Bila waktu benar-benar mewujudkan harapan saya, mengembalikan usia di bawah 25 tahun, saya akan bekerja keras.

Mengurangi sifat buang-buang uang, seperti sok mentraktir makan, bensin kendaraan, beli ini dan itu.

Lebih baik menderita usia muda ketimbang saat usia menjelang 40 tahun. Bebannya bukan lagi diri sendiri. Tapi keluarga, hingga saudara. 

Hanya saja bila nasib keluarganya sama dengan saya. Kalau sudah kaya raya, tidak mikir biaya pengeluaran, biaya lainnya, ya santai aja. 

Apalagi tinggal meneruskan bisnis orang tua. Seharusnya aman. Sebesar apapun pencapaian, pasti membanggakan bila berada di keluarga seperti itu.

Ya, kamu. Kamu yang belum berada di umur 30 an tahun dan juga bukan dari keluarga yang bisa mengandalkan finansial, dengarkan saya.

Jadilah miskin di usia muda, maksudnya hemat, mengatur keuangan dan kurangi pengeluaran yang tidak penting.

Dan petiklah kemiskinan yang kamu simpan erat-erat di usia dewasa, atau usia 30 tahunan. 

Semisal bisa membuat karya, jadikanlah investasi yang berkelanjutan. Buatlah sesuatu yang dapat menghasilkan.

Bila harus bekerja, ambillah pengalamanannya dan terapkan pada usaha rintisan yang ingin dikembangkan.

Jangan bergantung pada pekerjaan, karena itu tidak selamanya. Menderitalah, tidak apa-apa. Namun saat waktu tiba, berbahagialah.

...

Saya tidak menyesal jalan yang saya ambil sekarang ini hingga di usia 30 tahun. Meski tidak ada uang atau wanita di samping.

Hanya saja, saat usia kepala tiga tiba. Ada banyak hal yang dikhawatirkan, terutama keluarga. 

Bila kamu kaya, tidak perlu banyak memikirkan. Sebaliknya, jangan jadi seperti saya yang belum bisa diandalkan.

Bekerja keraslah untuk menghasilkan uang sebelum umur 30 tahun. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini