Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Rendang: Rezeki Bulan Ini

[Artikel 34#, kategori rumah] Rezeki memang nggak melulu soal uang, bisa saja makanan. Saya bersyukur minggu ini ketika pemilik rumah datang dan juga membawa makanan yang sudah dibungkus dengan rapi dari Kota Samarinda. Setelah beberapa waktu menghabiskan makanan hanya dengan mie dan telur atau beli di warteg, kali ini ada suasana yang berbeda.

Minggu kedua bulan November, yang datang kali ini adalah si sulung. Entahlah kenapa ia meninggalkan istrinya yang tengah mengandung ke sini karena katanya akan mengikuti kompetisi biliar di Kota Semarang.

Sebagai salah satu orang yang mengerti hiruk pikuk Ibu Kota Jawa Tengah, saya pikir ia juga merindukan teman-teman dan dunianya saat masih berstatus single. Pria, terkadang seperti wanita yang ingin melakukan semuanya sendiri atau me time.

Rendang

Biarlah si pemilik rumah dengan kehidupannya yang katanya akan seminggu lebih di sini. Yang harus saya awasi adalah makanan yang dibawanya. 

Rendang buatan si Ibu pemilik rumah memang selalu terbaik. Apalagi sudah lama tidak makan makanan mewah seperti ini. 

Jujur, meski lebih enak dihangatin dengan kompor, saya lebih menyukai makanan dingin. Rendang yang dibungkus plastik hanya perlu dipindahkan ke dalam mangkuk.

Kebiasaan saya, makanan tersebut langsung ditaruh di dalam kulkas dan dibiarkan di sana. Namun karena yang hidup di rumah bukan hanya saya saja, terkadang makanan ada yang memanaskannya lagi.

Biarlah, yang pasti saya seminggu ini bakal makan enak pokoknya. Meski itu hanya rendang plus nasi, tiap gigitan dagingnya yang bercampur bumbu, itu adalah kelezatan hakiki.

Haha..saya norak memang. Mau gimana lagi, sekian waktu tanpa makanan mewah, seperti pria desa yang baru nyampe kota.

...

Terima kasih rezekinya, Tuhan. Terkadang saya menginginkan uang bila boleh ditukar, tapi adanya rendang, saya juga tak bisa menolaknya sebagai bagian rezeki yang datang.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini