Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

3 Kali Ke Bengkel

[Artikel 28#, kategori sepeda] Awal bulan Februari terasa berat karena menggeret sepeda yang ban belakangnya mendadak meledak sendiri. Mau tidak mau, harus ganti luar dalam. Perih sekali rasanya merogoh kocek kali ini.

Tidak ada yang gratis di muka bumi, prinsip yang rasanya cocok kali ini. Saya pikir, punya sepeda tidak ribet mengurusin biaya rawatnya. Jangan heran sepeda saya semakin rapuh dan dekil karna pikiran itu (soal merawat).

3 kali ke bengkel

Saya pikir setelah orang-orang sudah pulang (keluarga), beban yang saya rasakan sudah hilang. Ternyata tidak demikian.

Ban sepeda saya kembali pecah. Bedanya dengan bulan September tahun 2021, kali ini pecah sendiri saat saya naiki. Sedangkan dulu, karena dipompa (kebanyakan angin).

Untunglah saya sudah punya tujuan baru (bengkel). Tidak repot dan juga dekat dengan rumah. 

Ban sepeda bagian belakang saya divonis harus ganti luar dalam oleh si Mbah yang punya bengkel. Mau tidak mau, saya pasrah menerimannya.

Setelah dipasang dan kembali berjalan normal, ternyata ban masih bermasalah. Si Mbah memasangnya kurang kencang. Ada benjolan yang keluar dari samping.

Saya kembali membawanya kembali ke bengkel si Mbah. Diutak-atik sedikit, dan berhasil normal kembali.

Beberapa hari kemudian, masalah kembali muncul. Dan ini adalah ketiga kalinya saya mendatangi beliau. Entahlah, apa memang kudu ganti sepeda baru jika begini terus.

...

Sekarang sudah normal kembali. Beberapa hari tidak bersepeda rasanya ada yang hilang. Tapi, tetap saja rasa khawatir akan kembalinya masalah menghantui tiap langkah, eh mengayuh maksudnya.

Semoga ini terakhir kalinya bermasalah.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini