Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Jumat Hari Ini, Alasan Tidak Bersepeda

[Artikel 25#, kategori sepeda] Hampir seminggu ini bersepeda rutin tiap pagi. Sayangnya hari Jumat ini, malah gagal. Tubuh letih semalam selesai futsal memang terasa, tapi seharusnya bisa teratasi. Namun karena lelah tersebut membuat tidur lebih panjang, bangun pagi jadi molor sampai jam 4 dini hari. Mau tidak mau, pekerjaan yang biasanya dilakukan dari jam 2 dini hari, harus dikebut untuk diselesaikan.

Setiap hari selalu punya cerita. Entah itu ringan atau berat. Banyak hal manfaat dari bercerita lewat tulisan seperti ini, meski itu terlihat menderita. Tapi tunggu dulu, terkadang tujuannya bukan untuk dikasihani. Lebih punya arsip yang kelak di masa depan dapat dibaca atau diingat kembali.

Memilih menyelesaikan tugas

Meski niat bersepeda akhir-akhir ini sudah menyimpang, tidak lagi sekedar berolahraga, menjaga kondisi tubuh pagi hari sangatlah penting. Terkadang efeknya berbeda-beda, tapi untuk saya sendiri dapat mempengaruhi mood dan menjaga kualitas seharian hingga jam tidur.

Pokoknya kalau mau tidur cepat seperti saya, sebelum jam 9 malam, tipsnya tubuh dibuat capek. Capek di sini dengan berolahraga atau hal lainnya yang membuat tubuh terus bergerak.

Sebentar lagi azan subuh berkumandang, tangan saya melirik jam yang ada di handphone. Duh, telat bangun pikiran saya mulai bekerja setelah kebangun.

Usai mandi dan membuat segelas kopi, plus sarapan, azan akhirnya memanggil.

Nyalain WiFi dari handphone, buka laptop setelah tugas sebelumnya selesai, ini waktunya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena ketiduran.

Waktu terus berjalan dan tinggal 30 menit sebelum menyentuh angka pukul 7 pagi. Ada kesempatan update Instagram yang memanfaatkan kuota malam internet. Maklum, setelah jam 7 lewat paket malam langsung berhenti.

Akhirnya pekerjaan selesai meski tidak sepenuhnya usai. Mengorbankan bersepeda mungkin membuat perasaan dilema, tapi memilih apa yang harus diperhatikan yang paling utama tentu mengurusi dotsemarang.

Tubuh ini terbaring di atas sofa lembut dengan jendela terbuka. Angin sepoi-sepoi yang lewat menyentuh tubuh membuat perasaan tentram. Tanpa sadar, cerita yang dibuat ini sudah selesai diketik. Hanya lewat handphone cerita ini saya taruh di halaman blog ini.

Terima kasih sudah membacanya. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini