Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ada Alasan Tidak Bersepeda Hari Ini; PilWalKot

[Artikel 22#, kategori sepeda] Ada fenomena menarik hari ini. Cuaca yang selama 3 hari ini memberi suasana dingin, hujan dan angin, mendadak cerah. Benar-benar terang benderang pagi hari. Padahal sebelumnya, langit selalu gelap yang disertai gerimis dan gerumuh angin.

Bila itu keadaannya, saya masih bisa bersepeda 2 hari sebelumnya. Kecuali hujan yang memang sulit ditolerin, maka saya tidak akan bersepeda.

Pemilihan Kepala Daerah

Hari ini, 9 Desember, jatuh pada hari Rabu. Ada agenda nasional yang sedang mengadakan pemilihan Kepala Daerah. Di Semarang, pemilihan Wali Kota dipastikan melawan kotak kosong. Saya yang bukan asli Semarang tentu hanya bisa melihat saja.

Antara fenomena dan Pilwalkot ini seolah ada hubungan. Bagaimana bisa curah hujan dan angin yang sering membuat kaca jendela berbunyi mendadak kalem. Mungkin direstui acara hari ini.

Tidak bersepeda

Tenda terpasang di jalan yang berada di tikungan, dekat rumah. Sepertinya lokasi simpangan di sini paling favorit digunakan untuk setiap acara. Entahlah, saya harap ada orang yang mengetuk pintu memberitahu atau sekedar bilang bahwa di depan rumah ada kegiatan.

Ketika tenda sudah ada, dan acara untuk hari ini akan dimulai pukul 7 pagi, saya terus diberi kebimbangan. Apakah tetap bersepeda seperti biasa atau libur hari ini? Karena dipastikan perasaan tidak enak bakal jadi perhatian, ada banyak orang di sana (tenda) yang melihat. 

Pada akhirnya saya memilih hanya di rumah saja. Tidak apa-apa hari ini tidak bersepeda. Toh, hanya sehari saja. Besok sudah bisa lagi, kata dalam hati.

...

Saya menulis cerita ini siang hari ketika pikiran sudah menuntut untuk dikeluarkan. Tanpa terasa, angin yang sudah tenang sejak pagi, sudah kembali membuat jendela-jendela rumah berdetak dan berbunyi. Angin benar-benar kencang seperti kemarin.

Hati-hati buatmu yang bepergian siang hari.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini