Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Begini Rasanya Diposisi Mantan

[Artikel 61#, kategori Pria Seksi] Hari ini moodnya tidak baik. Sudah 3 hari diabaikan. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Saya atau para pria lainnya mungkin tahu, ketika wanita sedang mood-nya buruk, sebaiknya membiarkannya sendiri. Saya sudah merasakannya, dan bahkan berkali-kali diputus adalah salah satu sebabnya.

Saya mendadak ingat hubungan kami saat masih jarak jauh, antara dua negara. Indonesia dan Malaysia. Jika ada pilihan untuk mengembalikan hubungan ini, saya milih LDR lagi saja. Karena satu kota saja, saya seperti tidak punya kekuatan dan malah lebih lemah. 

Bicarakan LDR beberapa bulan lalu, saya sering diberitahu tentang mantannya yang sering menghubungi. Ia tak ragu mengirimkan screenshoot tentang mantannya yang menghubungi. Karena beberapa kali saat kami berkomunikasi, ada telpon masuk. Dan itu mantannya ternyata. Dia, mau tidak mau merasa harus memberitahu karena hubungan kami saat itu masih bagus-bagusnya.

Di tempat yang sama

Sekarang setelah menjadi mantan, saya merasa di tempat yang sama dengan mantannya yang sering menghubungi. Antara ini lucu atau semacam karma, saya melakukan hal yang sama. Menghubunginya meski sudah jadi mantan.

Ini benar-benar dilema. Rasa khawatir sebagai pria yang begitu mencintai wanitanya menjadi lebih besar dari sekedar pacaran dahulu. Maklum saja, ia memiliki kehidupan yang terbalik dengan saya. Maksudnya ia sudah bekerja dan tempatnya banyak berkegiatan malam hingga dini hari saat saya bangun.

Bukan tempat dugem seperti yang dibayangkan. Bukan-bukan, hanya tempat nongkrong yang disukai anak muda. Itu adalah waktu saya produktif dan saya sebenarnya berharap ia adalah wanita yang duduk manis di tempat wifi sambil nongkrong dengan teman kampus mengerjakan tugas. 

Tapi kenyataannya, ia lebih ingin bekerja keras di usia muda. Uang memang bukan segalanya tentunya, tapi dengan uang setidaknya dapat bertahan hidup. Mungkin itu yang dipikirkannya.

Kembali soal mantan, saya tidak mengira sekarang benar-benar menjadi seseorang yang ia tolak saat dihubungi. Saya jadi merasakan bagaimana posisi mantan yang begitu sayang terus terabaikan. Benar-benar tidak menyangka saya di sana sekarang (posisinya sama).

Namun meski saya sudah diposisi mantan tersebut, saya berharap wanita saya juga tidak mengambil sikap yang sama atau keadaan yang sama. Jangan-jangan saya terabaikan karena ia sudah punya seseorang juga. Sama seperti saya saat jadi kekasih. Karena rasa hormatnya pada prianya, ia mengabaikan saya. 

Bila itu benar, saya benar-benar sedih. Hukum sebab akibat mungkin saya rasakan sekarang. Tapi semoga Tuhan tidak memberikan kepadanya juga. Bila ia lepas, semoga tidak ke lingkarannya atau masa depannya. Kasian dia, sudah bekerja keras hari ini harus merasakan sebab akibat juga.

...

Mari meninggalkan tulisan ini dulu. Saya mau salat. Mungkin saya akan terabaikan lebih lama dari biasanya jika moodnya tidak kembali. 

Rasa khawatir yang saya berikan, sepertinya sia-sia. Saya berharap dia juga khawatir dengan saya. Setidaknya mengabari keadaannya. Saya bisa menjemputnya atau menemaninya sarapan pagi yang sangat ia sukai, soto ayam.

Lupakan cerita tentang kisah si mantan. Karena semua orang juga akan merasakan hal yang sama setelah mereka putus. Semoga tidak jadi mantan suami atau mantan istri.

Semoga lekas kembali moodmu, sayang.
Aku di sini menunggumu.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini