Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bertahan Sampai 10 Bulan

[Artikel 54#, kategori Cinta] Seharusnya malam ini (23/12), kami merayakan 10 bulan hubungan kami. Banyak ucapan dan rasa syukur karena bisa bertahan, terlebih saat pandemi sekarang. Pencapaian luar biasa melewati banyak drama tahun ini. Dari tangis, tawa dan bagaimana saya dapat bertahan setelah berkali-kali ditinggalkan.

Di malam yang diselimuti kesunyian, kami berpesta kecil. Mengambil beberapa barang seperti bantal dan tikar yang diatasnya diberi hambal. Makanan dan minuman juga sudah dipersiapkan. Ide untuk menikmati malam di atas atap adalah keinginan yang ingin saya lakukan bersama pasangan.

Namun saat melakukan persiapan, saya menjatuhkan gelas minuman. Ah... Sial kata saya dan buru-buru menggantinya dengan yang baru.

Kami bicara tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga bahasa tubuh karena momennya cocok malam itu. Akhirnya penantian 6 bulan yang dipisahkan jarak dan waktu, kini bisa bersama lagi. Tangan yang lembut itu terasa hangat. Melihat wajahnya, sungguh malam ini adalah malam terindah saya sebagai pria.

Mungkin saya akan menangis bila saya ingat betul tiap kami sering melakukan video call. Saya tidak menyangka wanita saya sekarang ada di depan mata.

Selamat 10 bulan, sayang.

Maaf hanya bisa melakukan ini. Priamu tidak pandai mengatur suasana romantis layaknya film drama Korea. Hanya lilin kecil yang diambil dari sisa pesta sebelumnya yang  pernah dipakai.

Aku sangat mencintamui, terlepas perbedaan kita tentang keyakinan. Aku tahu kamu butuh kepastian tentang masa depan, aku akan berusaha dan menemanimu sampai kapanpun.

Bertahan hanya sampai sini

Maaf-maaf, cerita ini hanyalah imajinasi saja. Kami sudah putus di bulan ke-8 sebenarnya. Tahun ini rasanya saya sangat bucin. Apa yang dilakukannya, benar-benar luar biasa.

Sepertinya, ini adalah tulisan terakhir perayaan yang saya rayakan sendiri tahun ini. Saya terus berusaha mengajaknya balikan hingga 2 bulan terakhir, tapi upanya masih kurang besar.

Bahkan, saya sudah menanggalkan harga diri demi dapat balikan. Namun tetap saja, cinta tanpa dua orang saling suka, bukan cinta namanya. Hanya obsesi dari rasa penasaran.

Saya harus benar-benar mundur kali ini. Tangisan yang menemani halaman ini sudah cukup. Saya harus mulai mengkoreksi diri, kenapa saya tidak sempurna sebagai pria dimatanya. Apakah saya terlalu tua, soal keyakinan atau tidak kaya?

Terima kasih tahun 2020, 
Meski kita tidak lagi bersama, saya harap Tuhan memberi saya banyak cerita lagi. Entah apakah kembali bersamanya, atau yang lain.

Semangat buat saya tahun depan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini