Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Susahnya Konsisten Di Hari Senin

[Artikel 20#, kategori rumah] Ada saja halangan yang datang di hari Senin. Entah karena dari diri sendiri atau hal-hal lain, seperti kemarin karena ada kegiatan. Kata hati kecil, sudah besok bisa dilakukan. Dan akhirnya keterusan sifat menunda. Konsisten itu sulit, bos!

Setiap hari Senin, saya selalu memikirkan sore hari terkait aktivitas membersihkan rumah. Ya, menyapu dan mengepel. Ini adalah tugas yang saya atur buat diri sendiri di rumah yang saya tinggali, meski hanya menumpang.

Saya adalah orang yang konsisten, tapi entah kenapa selalu aja gagal menghadapi kenyataan. Semua kekuatan pikiran sudah dikumpulkan, nyatanya saya tetap meninggalkan.

Bila tidak dikerjakan hari Senin, saya terpaksa memaksa diri menyelesaikan di hari Selasa. Paling buruk dari gagalnya konsisten yang pernah saya lakukan adalah tidak melakukan apa-apa.

Dan hari Jumat tiba. Hari kedua dalam seminggu melakukan pekerjaan rumah. Hari Jumat maupun Senin yang seharusnya tinggal lakuin saja karena sudah terbiasa, juga tetap gagal konsisten.

Saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, mengapa saya gagal konsisten. Padahal saya mengagung-agungkan sifat konsisten dalam mengarungi kehidupan.

Manusiawi memang, tapi ini bukan alasan. Semua kembali pada tekad dan motivasi. Terkadang konsisten gagal karena hal remeh temeh. Semoga kamu tidak mengalaminya. Karena yang konsisten saja masih kesulitan, apalagi kamu yang tidak konsisten.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini