Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kalau Sampai 1 Jam, Saya Pulang!

[Artikel 15#, kategori Dibalik Layar] Hari ini, Jumat (18/12), saya akan pergi ke Kabupaten Semarang. Menghadiri acara yang digelar Susan Spa. Meski juga tidak sepenuhnya mengikuti karna saya diberikan kebebasan untuk menjelajah tempat mereka. Persiapan semuanya sudah dilakukan, tinggal nunggu dijemput di tempat yang sudah dijanjikan. Lama juga nunggu jemputan.

Jam 10 tepat, saya sudah tiba di halte Trans yang berada di depan Lotte Mart. Kami janjian di situ sebelumnya. Sayangnya, satu hari sebelum pergi, orang yang bekerja di Susan memberitahukan jika yang menjemput bukan dirinya. Tapi, ada orang lain nantinya.

Kapok ngajak blogger

Beberapa hari sebelumnya saya dihubungi seseorang yang pernah saya temui pertama kali di Susan, yakni orang pemasaran (marketing). Ia ingin saya pergi ke tempatnya untuk sekedar melihat dan membuat saya mendapatkan banyak konten lagi untuk tempat tersebut.

Jadi, saya diundang bukan untuk liputan sebenarnya. Tapi sebagai undangan datang saja. Namun mau gimana lagi, ketika jiwa-jiwa jurnalis juga ikut terbawa. Mau tidak mau setelah di sana, ikut nimbrung dengan awak media.

Karena Susan bukanlah tempat sembarangan, selain jaraknya juga yang sangat jauh, saya ingin mengajak beberapa bloger yang saya kenal. Lumayan bila mendapatkan konten di sini. Sangat mahal tentunya dan kesempatan tidak datang dua kali. Kebenaran perasaan baik sedang menyelimuti juga.

Saya jujur dari awal mengatakan bahwa kegiatan ke sana tidak ada bayaran atau no fee. Saya tidak ingin antusias orang yang saya ajak begitu besar dan ketika mengatahui saat sudah tiba di lokasi jadi memble.

Awalnya tertarik, namun mendadak dibatalkan karena ada kepentingan lain yang sudah direncanakaan katanya. Saya selain menjelaskan tentang tidak ada bayaran juga mengatakan bahwa kita diberi fasilitas jemput antar, saya tahu jarak dari Kota Semarang dan Bandungan sangatlah sulit.

Ketika akhirnya mereka tidak pergi, perasaan saya antara memaklumi atau karena kegiatan tidak ada uangnya membuat nilai saya semakin kurang. Memang tidak bisa dipaksakan, dan coba mengerti dari setiap sudut. Begitulah, dan kembali ilmu ikhlas datang.

Sepertinya saya tidak akan lagi mengajak siapa pun di tahun depan, bahkan merekomendasikan. Nilai saya sepertinya tidak ada harganya. Apakah saya bukan sesuatu yang penting? Ah, saya mulai mengkoreksi diri sendiri. Maafkan.

1 jam, saya pulang

Sudah setengah jam lewat saya menunggu di halte. Orang yang menjemput saya tidak datang-datang juga. Jika sampai 1 jam, saya akan pergi saja. Maksudnya pulang. Saya tidak peduli dengan keinginan seseorang yang mau mengajak saya karena sudah terlanjur kesal saat menunggu.

Sudah lebih dari 30 menit, saya berusaha menunggu. Kendaraan di depan saya sudah hilir mudik setiap saat. Orang-orang yang menunggu bus juga silih berganti turun naik. Dan saya seperti orang bego menunggu.

Yang ditunggu akhirnya tiba juga. Ternyata orang tersebut juga menjemput yang lain. Sepertinya awak media juga, tapi bukan. Entahlah, saya tidak ingin banyak bicara karena mood saya sedang tidak bagus.

Saya pikir akan terlambat sampai lokasi, ternyata acara diundur setelah salat Jumat. Syukurlah. Orang yang duduk disebelah saya berbicara dengan saya tentang berapa lama saya menunggu. Mereka kaget karena saya tepat waktu dan minta maaf karenanya.

...

Ini adalah kisah dibalik layar kegiatan saya yang sedang berada di Susan Spa kemarin. Kadang banyak hal yang tidak diketahui karena tertupi kerennya yang sudah terlihat dari permukaan.

Hujan menyertai sebagian perjalanan pergi dan pulang. Untunglah saya pakai jaket karena kondisi cuaca yang berkabut. Sebagian tamu yang hadir kebanyakan menggunakan pakaian batik, entahlah saya tidak terpikirkan untuk pakaian saat itu.

Saya senang bisa sampai tujuan meski banyak cerita yang menemani perjalanan hari ini. Hal-hal kecil sebagai drama, layaknya menonton film di bioskop.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini