Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Titik Terendah

[Artikel 60#, kategori Pria Seksi] Mungkin inilah momentum tepat untuk melepaskan. Kebahagiaannya adalah hal penting ketimbang memikirkan perasaan saya yang selalu tidak beruntung. Apalagi kini dia sudah ada pengganti yang lebih baik segalanya dari saya.

Hujan masih menemani di bulan Desember. Itu artinya, kehidupan saya masih juga belum bisa move on.

Pulang futsal kamis malam (3/4), air mata saya masih saja menetes. Entahlah kenapa dengan saya masih memikirkan luka ketika hari ini dia salah mengirim emoticon. Ah dia punya seseorang, pikiran negatif yang terus muncul dari akibat rasa kurang percaya diri karena sekali lagi ditinggalkan.

Rasanya, saya ingin lari esoknya. Berdiam tanpa aktivitas, baik di media sosial maupun kehidupan yang bisa terhubung dengannya. Saya ingin bersembunyi. Mematikan pemberitahuan semua aplikasi.

Saya ingin dia bahagia tanpa memikirkan saya lagi. Toh, alasan terbesar kami soal berbeda agama sudah jadi perpisahan yang tidak mungkin terwujud.

Tapi, ini dampaknya dengan dotsemarang ke depan. Bagaimana saya bisa menghilang ketika semua pengorbanan yang saya lakukan belasan tahun untuk mempertahankan dotsemarang hancur karena saya merasa kalah.

Pendapatan yang saya dapatkan dari kerja keras meski masih receh, setidaknya bisa mengajak dia makan enak, beli Soto kesukaannya, dan beli kuota agar tetap terhubung dengannya.

Bagaimana saya jadi selemah ini?

Perjalanan saya yang masih panjang tidak mengira harus berhadapan dengan realita cinta.

Bukan kehilangan kuota atau laptop yang bakal kembali ke perusahaan yang membuat saya bakal berhenti menulis di blog dotsemarang tahun depan, tapi malah galau cinta yang sekali lagi ditinggalkan.

Di masa depan, cerita ini bakal ditertawakan. Tapi karena kisah ini, andai saya bisa bertahan, mungkin jadi sejarah bahwa saya pernah jatuh ke titik terendah.

Sama seperti tahun 2015 ketika harus tinggal 1 bulan di Samarinda karena mamah sakit. Saat itu saya pikir sudah benar-benar jatuh ke titik terendah. Tidak ada yang peduli meski saya menangis sekalipun.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini