Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tantangan Bulan November, Putus yang Ke-9 Kali

[Artikel 58#, kategori Pria Seksi] Meski kata 'putus' tidak asing ditelinga, karena sudah kedelapan, dan ini jadi kesembilan, saya langsung terdiam. Pergi meninggalkan percakapan. Ditambah suasananya awal bulan, bukan sedih yang saya rasakan. Tapi amarah. Ia seolah mencari perahu sendiri agar selamat. Meninggalkan saya di pulau dengan kesepian.

Saya terbangun dari kesunyiaan malam. Menatap layar, apakah dia sudah pulang. Setelah terhubung beberapa saat, rasa khawatir pun hilang. Tunggu sebentar katanya yang ingin mencuci muka setelah pulang. Tanpa sadar, pesan berikutnya yang belum terbaca adalah kata putus.

Sontak saja, saya yang masih seger dan beranjak pindah meja kerja, mendadak lemas. Tidak ada perlawanan, hanya tatapan kosong. Udara mendadak dingin yang biasanya jam 2 pagi terasa panas.

Saya benar-benar tanpa persiapan, dan langsung diputus.

Tidak ada kesepatakan kedua belah pihak. Begitu mudah kata itu keluar lagi. Tidak ada pertimbangan, pertemuan dan hal lain untuk membuatnya mendengarkan. Ia seakan menutup mata.

Jangan tinggalkan aku

Saya baru mengeluarkan ide-ide dalam pikiran. Pekerjaan yang harus bangun dini hari tanpa sadar langsung tersendat. Tidak lagi gairah, hanya tetesan air mata dengan mengumpat 'segitunya'. Apakah saya boneka? Saya juga punya perasaan.

Kali ini seriusnya berbeda dengan sebelumnya tiap ia mengatakan putus. Meski saya tidak ingin putus, lawong tidak ada masalah sebelumnya, kok mendadak mulu.

Saya berharap mendapatkan keajaiban. Ia datang, setidaknya. Berbicara dengan baik, semisal ingin putus. Tidak dengan menyelamatkan diri sendiri karena saya dianggap kurang peduli. 

Nasi sudah jadi bubur. Ia semakin kekeh dengan keputusannya. Apakah awal bulan November, saya benar-benar ditinggalkannya? Ini menjadi tantangan yang tidak mudah untuk saya.

Sepertinya setia saja tidak cukup. Wanita berharap sebuah kepastian, padahal yang menikah saja, kepastian bisa dilepaskan. 

don’t leave me alone

always be here

don’t leave me alone

why don’t you stay

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini