Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dari Bulan September Sampai November, Kebanjiran Konten Wisata di Blog dotsemarang

[Artikel 132#, kategori dotsemarang] Menyenangkan bisa terlibat dengan kegiatan pariwisata, apalagi skala provinsi. Bisa jalan-jalan gratis, dapat akses, rame-rame dan paling penting adalah status sebagai blogger. Namun semua itu sirna setelah tiba di rumah. Seperti biasa, tugas menulis yang harus disegerakan.

Saya senang saat pandemi sekarang ini, sejak bulan September hingga November, saya bisa jalan-jalan ke luar kota. Membayangkan antara hobi dan pekerjaan yang berjalan seiringan itu benar-benar melegakan.

Dibayar pastinya, tapi

Meski kebahagian utama adalah hobi yang dapat dibayar, tetap saja yang namanya perjalanan selalu ada banyak kisah yang dapat ditampilkan. Itu adalah konten ekslusif, dan tidak semua orang memilikinya.

Sayangnya kegembiraan itu harus memakai kata maklum. Terkadang harga sama rupa dengan peserta lain. Kadang pula juga, dari awal sudah diberitahukan bahwa mereka hanya mampu memberi sedikit. Tapi dengan jaminan bahwa semua akses tempat wisata, tinggal kita datangi saja.

Di sini mau mengeluh tidak bisa. Mau pasang tarif juga, tidak tega. Apalagi minta bayar di muka, nah ini hanya bercanda. Sebagai bloger masih rasa lokal, saya masih memikirkan konten dan nilai sebuah portofolio. Lainnya adalah bonus, sekecil apapun itu.

Wisata era new normal

Semenjak bulan September, tempat-tempat wisata yang sudah dikunjungi diantaranya mulai dari desa wisata, wisata buatan, wisata yang sudah pakem dari dulu hingga tempat wisata yang diutamakan.

Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang hingga Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah adalah penyelenggara yang paling sering mengajak saya untuk pergi.

Tujuannya kali ini bukan tentang bagaimana menariknya tempat tersebut sebagai konten utama, tapi bagaimana penerapan protokol kesehatan yang ditawarkan sesuai rekomendasi.

Tantangan

Persoalannya datang setelah pulang. Saya bukan penganut tulisan panjang hingga ribuan kata. Saya lebih menyukai tulisan pendek agar pembaca tetap fokus pada tema yang lebih spesifik.

Beberapa bloger menuliskannya dalam satu halaman di mana tulisannya berisi satu hari perjalanannya. Padahal dalam perjalanan, bisa saja lebih dari dua kunjungan dan sangat melelahkan untuk saya baca dalam satu halaman.

Tapi tiap orang berbeda, wajar banyak yang tidak sama untuk menyampaikannya. Itulah mungkin mengapa perbedaan itu indah.

Catatan perjalanan

Saya sudah menuliskannya di blog dotsemarang, jadi tidak lagi menaruh tempat-tempat apa saja yang dikunjungi. Berikut beberapa catatannya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini