Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mengikhlaskan

[Artikel 53#, kategori Cinta] Satu bulan sudah hubungan kami setelah putus masih tidak mendapatkan titik temu. Keputusannya sulit diubah. Pilihannya menderita sekarang seolah ia menjadi tokoh jahat seperti di film-film. Mungkin saya benar-benar harus mengikhlaskannya sekarang. 

Hari ini (28/11), tepat satu bulan dan saya masih mencari makna tentang hubungan kami yang tak dapat saya cerna dengan baik. Saya terkejut ketika akun facebook-nya juga ikut dibuat tanpa gambar. Seburuk itukah saya di matanya, atau memang saya seperti sampah (pecundang).

Ikhlas

Saya membuka foto-fotonya di sana. Betapa manisnya saat ia tersenyum tanpa beban. Terutama masa Sekolah dan kuliahnya yang membuatnya terlihat begitu bergairah ala anak muda yang menganggap pertemanan adalah segalanya.

Wajah manis dengan senyum lebar itu kini tak pernah saya dapatkan lagi. Meski ia tetap tersenyum saat membagikannya di media sosial setelah kami putus, namun saat terhubung dengan saya, ia benar-benar menunjukkan bahwa saya sudah tidak diperlukan sebagai prianya.

Saya terus menelusuri senyum manis di album facebooknya. Semakin banyak yang saya lihat, semakin berdosa rasanya apa yang telah saya perbuat hari ini. 

Mungkin sudah seharusnya saya melepaskannya. Tidak mengganggu kehidupannya. Tidak bertanya untuk memberi perhatian kepadanya sambil ngarep balikan.

Saya jadi ingat film India yang judulnya Jalebi. Bagaimana cinta yang akhirnya sudah berada dalam satu ikatan tetap berakhir. Padahal cerita mereka sangat indah. Akhirnya, salah satu pihak tidak menerima sikap yang merasa ditinggalkan begitu saja.

Ketika kita benar-benar mencintai seseorang, kita merasa seolah dikhianati saat hubungan telah berakhir. Bahkan beberapa tahun waktu yang terus berjalan, rasa benci dan rindu yang menjadi satu membuat hidup kita seperti dalam balutan amarah. 

Mungkin sudah saatnya kita melepaskannya dan membuka harapan baru pada orang yang berasal dari masa depan. Sudahi saja konflik batin yang terjadi dan biarkan mati di dalam hati yang lain.

...

Saya harap, bulan Desember dapat saya lewati dengan lebih baik lagi. Meski saya tahu itu tidak mudah karena perjalanan kisahnya selalu sama. 

Dan maafkan saya, sayang, 
Perjuanganku harus diakhiri sampai di sini sekarang, meski tidak memberi dampak besar.
Kebahagiaanmu adalah hal penting. Khususnya senyumanmu yang hilang tiap aku datang.
Hubungan kita sudah tidak bisa dipaksakan ketika salah satu memang sudah menyerah.
Berbahagialah!

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini