Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Hujan Deras, Lanjut Atau Pulang Kembali?

[Artikel 59#, kategori futsal] Sore hari langit masih cerah. Bila dulu selalu menunggu Jumat, sekarang malah Kamis. Saya berharap hari ini bisa futsal tanpa terkendala. Namun beberapa saat setelah setelah pintu dibuka, rintik hujan sudah mendarat ke tanah.

Kamis malam (10/12), cuaca tidak bersahabat kali ini. Dengan semangat yang tlah lama menanti, saya tetap pergi. Jas hujan plastik yang mudah dicari di minimarket tidak lebih 15 ribu sudah menutupi seluruh badan. Kecuali telapak tangan, wajah dan kaki. Aman pokoknya, sekalipun hujan mendadak deras.

Motivasi 

Benar saja, hujan yang tinggal menunggu giliran datang, langsung menghantam badan yang bergerak pelan dengan hanya bersepeda.

Derasnya tidak tanggung-tanggung. Kekhawatiran ponsel jadi basah hampir membuyarkan pikiran. Malam itu, jalanan berlapis cahaya. Sungguh pekat terasa.

Semangat itu mulai memudar karena hujan tak kunjung reda. Perasaan galau mengubah arah ban sepeda untuk segera memutar.

Pergulatan batin jadi beban dalam pikiran. Hujan deras gini, mau lanjut atau pulang? Padahal tinggal jalan dan biarkan terasa penderitaannya. Setidaknya pas sakit setelah pulang futsal, saya punya alasan ke dia untuk membuatnya khawatir.

Setelah berhenti sejenak, menahan diri untuk tidak pulang di pinggir jalan, saya menemukan motivasi. Ini seperti perjalanan cinta yang masih tidak berhenti mengerus hati.

Bagaimana saya bisa melupakan tujuan awal ingin bermain futsal, jika hanya hujan deras saja, saya kalah. Bagaimana saya menjalani hidup sebagai kekasih, bila diberikan cobaan, saya selalu menyerah?

Dibalik hujan deras, ada keraguan yang jelas. Berpikir sebagai manusia normal, tentu saya akan pulang dan menikmati jam tidur malam. 

Sebaliknya, keraguan yang jelas ini adalah mental yang harus saya singkirkan. Selalu ada pelangi setelah hujan di siang hari. 

Akan ada tawa, suka meski berselimut duka ketika berhasil melewati keraguan. Saya benar-benar diajarkan untuk tidak berhenti mengayuh sampai ke lapangan futsal.

Pulang jam 10 malam dengan bersepeda

Sudah beberapa tahun terakhir saya jarang pulang malam di atas jam 9 lebih dengan bersepeda. Kali ini saya merasakannya lagi.

Sudah lelah, tubuh basah dan perasaan gundah gulana. Saya harap bisa sakit sebenarnya, tapi alhamdulillah tetap diberi kesehatan. Dan saya baru tahu tanpa Fatigon, tubuh saya tetap baik pagi harinya. Saya menggantinya dengan Antangin tablet.

Stok dari perjalanan masih ada, dan saya pikir itu bisa.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini