Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Sangat Sulit Menggabungkan Kata Konsisten Dalam Sebuah Hubungan

[Artikel 55#, kategori Cinta] Selamat, tahun depan saya bakal punya wanita lain lagi. Saya harap demikian. Menengok ke belakang, saya memang setiap tahun selalu berganti pasangan. Bukan karena saya playboy, hanya sebuah kisah asmara yang gagal. Konsisten mencintai ternyata sangat sulit. Kalau nggak diputusin, ya diusir karena sudah tidak berguna.

Saya berharap bisa bertahan dan selamanya menua bersama wanita. Namun kenyataannya, tidaklah semudah apa yang dituliskan.

Saya boleh sombong dan sangat percaya diri dengan kata konsisten. Lihat dotsemarang, lihat aktivitas bersepeda saya. Saya melakukannya. Hanya saja soal cinta (asmara), seperti surga dan neraka.

Mengejutkan rasanya punya kehidupan berbanding terbalik seperti ini. Apalagi sebagai pemilik blog dotsemarang yang seakan keren dan dikenal banyak orang.

Saya tidak tahu bakal siapa lagi yang datang. Apakah saya akan kejebak dengan cerita yang sama, atau akhirnya harapan saya menikah terlaksana? Entahlah, kita lihat saja bagaimana saya menjalaninya. 

Kalau Tuhan beri kesempatan lagi, saya berharap tetap tinggal (sama yang sebelumnya saja). Lelah banget menuliskan kebahagiaan di awal dan mengisahkan kesedihan di akhir kehidupan asmara. Seperti drama saja. Sesekali ujung tahun tetap bahagia, masa selalu menderita.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini