Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ada Alasan Bersepeda Hari Ini

[Artikel 19#, kategori sepeda] Ketika kamu memiliki tujuan untuk dituju, di situ kamu berusaha terus maju. Tak peduli seberapa jauh dan membuat jemu, percayalah garis akhirnya selalu menyenangkan. Saya ingin merasakan nikmatnya, meski itu hanya sesaat.

Sudah lama ternyata saya tidak menulis tentang aktivitas bersepeda. Saya senang pergantian umur di tengah tahun ini yang artinya umur saya sekarang adalah 34 tahun, saya masih diberi kesehatan untuk mengayuh pedal sepeda.

Mengukur jarak awalnya

Saya ingin melakukannya diam-diam hari ini, Kamis (3/9), sebenarnya. Biar nanti saat ke tempat tinggalnya, saya dapat memprediksi waktu dan medan (jalanan) yang ditempuh dengan bersepeda.

Setelah melakukan persiapan seperti biasanya, saya pergi dari rumah pukul 05.12 wib. Saya ingin berjalan santai, menikmati udara pagi dan suasana jalanan.

Tidak lupa untuk mengaktifkan aplikasi google fit biar mudah mengetahui jarak dari rumah ke tempat tinggalnya. Aplikasi yang bagus untuk saya rekomendasikan buat kamu yang suka berolahraga.

Perjalanan mulai sedikit berat ketika melintas lampu merah yang seberangnya ada gedung Polda. Sepeda yang sudah saya pakai ini sudah 8 tahun dan sekedar sepeda lipat. Ketika bertemu tanjakan, di sana nafas saya mulai tidak beraturan.

Tantangan kedua kembali datang saat melintas saat kembali dipertemukan dengan tanjakan sekitar Gereja yang berada dekat dengan rumah sakit Kariadi.

Selebihnya, jalanan dibabat habis. Saya senang dengan jalanan di Kota Semarang yang bukan hanya luas, tapi juga mudah dilalui sepeda.

Berkencan pagi hari

Akhirnya saya tiba di depan Taman Sampangan yang juga disambut pesan datang dari smartphone. Rupanya dia sudah bangun. Tanpa sadar, saya malah memberitahu keberadaan saat ini. 

Duh, malah disuruh menghampirinya. Awalnya hanya ingin mengukur jarak, malah diajak bertemu. Yasudahlah, saya tidak ragu mendatanginya, sekaligus menyampaikan rindu ini yang tak pernah jemu setiap bertemu.

Sambil membeli makanan kesukaannya, jadilah tempat duduk yang berada di depan rumah berubah menjadi tempat kencan. Meski dia belum mandi, haha. Bagian ini semoga tidak kesel saat membacanya.

...

Setelah melihat aplikasi, jarak rumah sampai ke tempat tinggalnya membutuhkan jarak kurang lebih 10 km dengan durasi waktu 1 jam 4 menit. Total keseluruhannya tinggal kali dua saja. Ya, 20 km.

Hari ini, ada alasan untuk bersepeda. Mungkin ini yang dinamakan indahnya mencintai. Ingin melakukan apa saja untuk membuat wanitanya bahagia. Entah, apakah ia benar-benar bahagia karena niat awal saya tidak utarakan haha.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini