Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tidak Aman

[Artikel 110#, kategori blogger] Saya pikir jalan kali ini sudah aman. Saya tidak perlu khawatir lagi, meski untuk bersandar sebagai penopang masih sulit. Bersyukur karenanya saya tetap merasakan punya saldo di dompet digital. Apalagi pandemi saat ini. Tapi kenyataan selalu tidak mengenakkan.

Beberapa orang mendapatkan gaji bulanan, tidak masalah tidak terlibat dalam sebuah kampanye yang sering terlibat. Tapi bagaimana dengan saya? Harapan tinggi yang sudah terbangun mendadak rusak karena ada misi lain.

Tidak aman

Aktivitas yang sudah konsisten berjalan setiap bulan, membuat saya senang karena nafas saya masih panjang untuk online. Saya percaya sama mereka dan bagaimana pengaruh seseorang di dalamnya.

Saya bekerja keras untuk menepati tugas-tugas yang diberikan. Memang beberapa kali gagal dan perlu diingatkan. Saya bersalah untuk itu.

Kemampuan untuk belajar dan tidak mengulangi adalah keyakinan untuk memberi yang terbaik. Ketika saya sudah berada di jalur yang benar, malah mendadak terdepak.

Saya kembali belajar lagi bahwa kerja keras, konsisten, bersikap baik, tidak akan berguna di dunia ini. Apalagi jadi penggembira, bukan pengelola.

Sudah tidak berhasrat

Penyakit saya kambuh lagi. Saya memilih diam ketika ada sesuatu yang salah dengan keadaan. Sebenarnya saya marah karena perjalanan yang dilalui bersama, mendadak ada bangku lebih untuk orang lain.

Saya sudah bertanya pada orang yang memulai kampanye. Tidak ada inisiatif darinya. Itu murni dari perorangan. Karena saya tahu bahwa itu bukan dari arus utama, saya sekarang sudah tidak berhasrat mengikuti.

Entah kenapa, ketika semua seolah baik-baik saja. Selalu ada yang membuatnya tidak baik. Semoga saya mengerti dan lebih dewasa menyikapi situasi seperti ini.

Yang jelas, tidak ada yang kekal. Meskipun sudah menggunakan akal sehat.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini